Wednesday, November 27, 2019

Harusnya pos Indonesia sudah menjadi raja di Indonesia

Harusnya pos Indonesia sudah menjadi raja di Indonesia

Assalamua'laikum sob, kembali lagi di blog ini.

Walaupun mungkin sudah basi karena isunya tidak viral lagi dimana pos Indonesia dikabarkan bangkut (Red: Pos Indonesia diisukan bangkut), namun selama beberapa bulan ini, hal tersebut menjadi salah satu dalam pikiran saya. Bagaimana bisa salah satu BUMN tertua di Indonesia dengan target pasar dan konsumen yan terus bertumbuh malah menjadi salah satu perusahaan yang dikabarkan bangkrut.

Bagaimana tidak ya, jika kita bandingkan apple to apple dengan perusahaan yang sama asal jepang, Japan Post, kondisi nya bagaikan langit dan bumi. Faktanya saja, sampai tahun 2019 ini, Japan Post adalah salah satu perusahaan Jepang yang paling besar duduk di peringkat 6 jepang dan 66 dunia dengan valuasi perusahaan sekitar 44,5 Miliar USD.

Bisa saja ada yang mengatakan: "Tapi itu kan di Jepang, mereka kan negara maju. Perbandingannya tidak apple to apple nih" atau "Masa membandingkan perusahaan di negara maju dan negara berkembang, ya tidak masuk akal".

Tentu saja, saya tidak membandingkan Japan Post dan Pos Indonesia secara langsung. Saya juga tidak mempunyai ekspektasi bahwa Pos Indonesia akan berada di jajaran 100 perusahaan dengan valuasi tertinggi di dunia seperti Japan Post. Namun, fokus saya adalah pada keadaan perusahaan pos Indonesia yang punya target konsumen 2 kali lipat dari Japan Post namun malah diisukan bangkrut sampai harus berhutang untuk menggaji karyawan.

Tidak. Ini tidak seharusnya terjadi. Pos Indonesia harusnya menjadi salah satu BUMN terkaya di Indonesia. Namun, ada asap pasti ada api. Selalu ada alasan kenapa akhirnya Pos Indonesia berada di posisi saat ini. Setelah saya menelusuri sendiri, saya cukup berani mengatakan ada 2 alasan kenapa pos Indonesia berada di kondisi krisis saat ini.
disclaimer : semua yang tertulis di tulisan ini adalah murni pemikiran dan pengalaman pribadi sehingga sangat mungkin untuk terjadi kesalahan. Jika teman-teman menemukan kesalahan ataupun perbedaan pendapat, silahkan berdiskusi dengan sopan dan kita akan menemukan jalan tengahnya.

1. Terlambat berinovasi dan tidak berhasil mendefinisikan system

Sebagai perusahaan tertua yang bergerak di bidang logistik dan pos, dapat dikatakan bahwa pos Indonesia terlambat berinovasi dan gagal membuat sistem pos yang kokoh untuk menjadi pondasi dari Pos Indonesia sendiri.

Sebagai contoh, dalam urusan logistik, inovasi pengiriman sehari sampai lebih dulu diperkenalkan oleh perusahaan saingan dengan sistem yang telah mereka uji. Tepat saja, butuh waktu oleh Pos Indonesia untuk mengeluarkan produk yang sama dengan perusahaan rival.

Kemudian, dalam urusan sistem pos, masuknya era digital yang begitu cepat membuat pos Indonesia bingung. Orang-orang mulai banyak beralih menggunakan surat elektronik dan membuat sistem pos surat tidak sepopuler dahulu. Padahal dalam kondisi seperti ini, Pos Indonesia harusnya memeras ide sampai tetes terakhir untuk mendapatkan cara agar sistem pos tetap eksis dan tidak tergusur perkembangan teknologi.

Tentunya, kedua hal tersebut dari banyak hal lainnya.

2. Kurangnya peningkatan layanan informasi

Pada faktanya, di era digital ini, orang-orang akan lebih mudah untuk menemukan seluruh informasi di Internet dibandingkan harus datang secara langsung ke kantor cabang. Sayangnya, kesempatan ini tidak dimanfaatkan baik oleh pos Indonesia.

Sebagai contoh saja, untuk mendapatkan informasi tentang pengiriman barang ke luar negeri. Hal-hal terkait aturan, besaran spesifik, larangan hingga biaya yang diperlukan tidak mudah untuk didapatkan. Walaupun memang tidak fatal, namun faktor informasi kadang menjadi hal-hal yang sangat dipertimbangkan oleh konsumen saat memilih jasa. Hal ini dikarenakan saat ini informasi merupakan sebuah hal yang harusnya sangat mudah untuk didapatkan.

3. Kurangnya peningkatan layanan konsumen

Dan terakhir adalah layanan konsumen. Jika kita datang ke kantor cabang pos Indonesia terdekat, proses yang harus dilalui bisa terbilang cukup merepotkan. Tidak adanya jalur pemahaman yang jelas, kurangnya informasi-informasi layanan dan seluruh informasi layanan hanya dibebankan kepada pegawai dari Pos Indonesia.

Walaupun tidak di semua kantor cabang seperti ini, namun mayoritas dari kantor cabangnya masih perlu banyak peningkatan di sektor layanan konsumen.

Ya kira-kira itu adalah alasannya. Mungkin di artikel selanjutnya, saya akan coba bahas tentang bagaimana Japan Post bisa menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Jepang.

Sampai jumpa~
Read More

Tuesday, November 26, 2019

Pergi keluar negeri, tukar uang di Indonesia atau di luar negeri ? + Video

Assalamua’laikum sob, selamat datang di tulisan ini.

Pergi keluar negeri, tukar uang di Indonesia atau di luar negeri ?

Sebenarnya, Kalau kita disuruh milih langsung, saya rasa tidak ada jawaban yang pasti. Kok gitu? 

Oke, sebelum kita bahas itu, saya mau cerita dikit tentang pengalaman saya. Ketika saya berangkat dari Jepang menuju singapura, saya melakukan eksperimen untuk melihat money changer di negara mana yang lebih baik nilai kursnya. Apakah negara asal atau negara tujuan (dalam kasus ini kita akan membandingkan Jepang dan Singapura).

Nah ternyata sesuai dugaan saya, ketika saya menukarkan SGD di Jepang, tepatnya di kansai airport international, saya mendapati nilai kurs yang lebih kecil dibandingkan ketika saya menukar di changi airport Singapura. 

Kalau gitu udah jelas berarti jawabannya ? 

Tunggu dulu, belum bisa kita simpulkan.

Dilain waktu, ketika saya pertama kali datang ke osaka, saya juga kurang lebih melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan di singapura, namun kali ini saya berangkat dari Indonesia. Hasilnya ternyata nilai kurs di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di kansai.. 

Nah memang, pada umumnya nilai tukar kurs akan lebih tinggi jika kita menukar uang di negara tujuan. Namun, Rupiah bisa dikatakan buan mata uang yang cukup terkenal di dunia sehingga ketika ingin pergi keluar negeri kadang kala rupiah masih dipandang sebelah mata oleh beberapa money changer. Contohnya di beberapa money changer di manila, mereka tidak menerima rupiah sama sekali untuk kita tukarkan dengan peso. Hal ini terjadi karena memang jarang ada permintaan di daerah tersebut untuk mata uang rupiah sehingga sangat wajar apabila mereka tidak mau menerima rupiah sebagai uang yang bisa ditukar.

Urusan tukar menukar ini pun, sebenarna sangat berdampak pada jumlah wisatawan di negara tujuan. Contohnya malaysia dan singapur. Di dua negara tersebut, rupiah dihargai cukup tinggi karena memang sangat banyak wisatawan indonesia yang datang dan membuat jumlah permintaan rupiah pun meningkat. 

Nah balik lagi, kesimpulannya lebih bagus nukar dimana ?

Jawabannya kembali lagi ke kebiasaan masing-masing saja. Saya pribadi adalah orang yang terbiasa harus megang uang sebelum berangkat. Walau pun nilai tukar kursnya mungkin lebih rendah, tapi saya merasa lebih nyaman pergi ke negara orang dengan sudah memegang uang. Tapi ada juga orang-orang yang memang lebih nyaman nukar uang di negara tujuan. Bisa tarik dari ATM ataupun langsung menukar uang tunai karena beberapa alasan lain yang menguntungkan. 

Satu hal yang harus diingat adalah, sebelum menukar uang, tentu saja kita harus punya dulu uangnya.
:D


Read More

Sunday, November 17, 2019

Tersesat

Daun berguguran, suara burung berkicau, aktifnya anak anak bermain menemaniku renungan sore di tengah taman ini. Sekarang sudah musim gugur. Musim yang melambangkan perubahan dan persiapan. Bagaimana tidak? Pohon-pohon mulai menggugarkan daunnya, alami, mengetahui musim berat dingin akan datang.

Iri. Hanya itulah kata yang bisa kukatakan. Bahkan tumbuhan yang tidak Allah berikan nikmat seperti manusia, paham tentang waktunya dan nempersiapkan masa depannya. Pepohonan tahu bahwa musim berganti dan ada hal hal yang harus dipersiapkan dan dilalui.

Tetapi, aku. Lihatlah aku. Duduk terdiam, mengamati indahnya warna merah pepohonan ini, tanpa tahu arah dan apa tujuan ku kedepan. Ketika kudengar temanku yang lebih muda 2 tahun sedang menjalani studi PHD nya di belanda, ketika sahabat baikku sedang persiapan menyelesaikan studi master nya di eropa atau pun teman dekatku yang berhenti bekerja untuk mempersiapkan studi masternya di jepang, aku hanya bisa terdiam.

Aku tidak mengatakan bahwa tujuan hidupku adalah melanjutkan studi. Bukan. Jelas bukan. Namun ada hal hal yang kuinginkan yang mereka miliki. Rasa haus untuk belajar dan kemampuan memahami diri sendiri milik mereka rasanya ingin aku curi.

Geram.

Apakah aku akan terus hilang dalam lingkaran tak berujung? Seperti air yang mengalir tanpa tahu tujuan akhirnya, akan kah pergi menjelajahi lautan atau terjebak dalam kubangan lumpur yang kotor.

Apakah waktu ku akan datang? Untuk keluar dari rasa ketersesatan ini?

Osaka, November 2019
Read More

Thursday, September 12, 2019

Life in Seaside Japan - Prolog


Life in Seaside Japan
Prolog: Hidup di desa

-

Assalamua’laikum sob, selamat datang kembali di blog Muabeyond.

Sebelum kita masuk ke cerita seri ini, Saya sangat ingin meminta maaf apabila ada teman-teman yang ingin membaca lanjutan cerita seri dari “Those days that change everything”. Cerita seri tersebut masih hiatus karena saya belum menemukan ide lanjutannya. Namun, bersamaan dengan seri baru ini “Life in seaside Japan”, saya berusaha untuk tetap konsisten menerbitkan kedua seri tersebut walau mungkin banyak hampatan yang akan muncul. Oke, sekarang mari kita mulai serial ini.


--

Jepang. Sebuah negara di timur benua asia. Salah satu negara yang mempunyai sejarah yang sangat membekas dengan negara saya berasa. Namun, tentunya saat ini, gambaran citra negara Jepang bisa dibilang telah berubah sangat jauh dari gambarannya terdahulu.




Tentu saja, apabila mendengar kata “Jepang” saat ini, hal yang terbayangkan dalam benak adalah betapa ramainya kota, betapa canggihnya teknologi dan betapa mahal dan modernnya kehidupan di negara tersebut. Tak salah, karena saya pun berpikiran hal yang sama. Hanya saja, saya tidak pernah menyadari bahwa terdapat banyak cerita yang tersembunyi dan tidak terlihat ataupun diceritakan. Salah satunya, kehidupan di desa Jepang.

Haha, saya minta maaf. Intronya sedikit panjang dan malah jadinya kurang dramatis. Kita kembali lagi kenapa akhirnya bisa sampai tinggal di desa. Simpel, jawabannya adalah karena pekerjaan.

Semua ini bermula saat saya masih menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saat sedang sibuk untuk menyelesaikan tugas akhir, muncul sebuah kesempatan untuk melakukan wawancara dengan perusahaan Jepang. Walau perusahaan ini bukan merupakan perusahaan yang besar, namun perusahaan ini menawarkan pengalaman bekerja langsung di Jepang dengan gaji yang cukup bisa diterima. Alhasil, dengan banyak alasan dan pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba mengikuti wawancara tersebut.

Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, banyak tahapan yang harus dilewati sebelum kita bisa menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Wawancara di Indonesia, wawancara di Osaka (untuk informasi saja, kantor pusat perusahaan ini terletak di kota Osaka sehingga pada wawancara final saya harus pergi ke Osaka agar dapat bertemu dengan para pemimpinnya) dan beberapa tes lainnya. Alhamdulillah, saya akhirnya diterima.

Satu hal yang saya juga baru sadar setelah diterima, perusahaan swasta di Jepang sama dengan BUMN di Indonesia. Karena perusahaan mempunyai banyak kantor dan pabrik yang tersebar di seluruh Jepang, maka terjadilah penempatan karyawan baru. Tentunya, teman-teman mungkin sudah bisa menebak apa yang saya ingin katakana. Betul, saya akhirnya ditempatkan di kantor cabang yang terletak di salah satu desa.

Itulah cerita saya akhirnya tinggal di desa Jepang untuk pertama kalinya dalam hidup saya.
Read More

Thursday, August 8, 2019

JBL GO Speaker - sudah turun harga!

JBL GO Speaker - sudah turun harga!
oleh: Muabeyond | Editor: - 


-
Assalamua'laikum sob, kembali lagi di unboxing&/review oleh Muabeyond.
kali ini saya kembali ke Indonesia untuk liburan.
Walau akhirnya harus menghabiskan jatah cuti selama 1 tahun, tapi tetap perjalanan ini sangat saya nantikan.

Eits, kayaknya itu beda ceritanya.

Kembali lagi. Setelah kembali ke Indonesia, saya akhirnya mulai kembali belanja online karena barang-barang di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Jepang. Nah salah satu nya adalah Speaker mungil dari JBL, JBL Go First Generation. 




Saya sebenarnya sudah sangat lama menginginkan speaker ini, karena bagi saya, JBL merupakan salah satu speaker dengan hasil keluaran suara yang indah banget. Tapi sayang, saat pertama meluncur beberapa tahun lalu, harganya sangat-sangat mahal untuk saya yang masih seorang mahasiswa tanpa pemasukan.

Nah sekarang, di Lazada harganya tinggal 269.000 Rupiah dan garansi 1 tahun. Memang sih, sudah ada generasi terbarunya. Namun, karena generasi terbarunya masih mahal, saya akhirnya tetap memutuskan membeli yang generasi 1 saja.

Nah, ketika barangnya diterima, speaker JBL Go ini berada didalam kotak plastik bening dengan ornamen hitam di bagian bawahnya. Warnanya variatif banget, banyak pilihannya. Saya sendiri memilih yang warna biru karena saya suka dengan warnanya.

Didalam paketnya,hanya terdapat unit speaker, buku panduan dan sebuah kabel micro usb. Satu hal yang sadar, yaitu warna kabel yang didapat sangat kontras dengan warna speakernya. Saya sendiri mendapatkan kabel micro-USB berwarna orange.

Di speakernya, terdapat 5 tombol yang berada di bagian atas speaker, 1 led notifikasi di bagian depan speaker, sebuah lubang 3.5 mm jack audio dan sebuah port micro usb untuk mengisi ulang daya speaker. JBL sendiri menyatakan bahwa JBL Go ini akan bertahan selama 5 jam dipakai terus menerus untuk mendengarkan musik. Saya sendiri belum pernah coba menggunakan sampai 5 jam secara terus menerus, namun sampai saat ini saya tidak tidak mempunyai komplain terhadap daya.




Untuk menghidupkan speakernya sangat mudah. Di sisi paling kiri speaker, terdapat logo power yang cukup ditekan sekali untuk menghidupkan dan ditekan agak lama untuk mematikan. Setelah hidup, maka LED berwarna biru akan menyala kelap-kelip yang menandakan bahwa speaker telah aktif. 

Ada 2 cara untuk menyambungkan perangkat yang kita punya dengan speaker, yaitu menggunakan 3.5 mm jack audio atau bluetooth. Namun, nilai jual dari speaker ini adalah fitur bluetooth yang sudah built-in. Untuk menggunakannya pun sangat mudah, kita hanya perlu menekan tombol yang berlogo bluetooth kemudian bluetooth dari speaker akan menyala. Sangat simpel bukan?

Untuk kualitas suara, saya tidak ada kritik apapun. Masih oke banget walaupun ini sudah merupakan produk beberapa tahun yang lalu. Suara nya masih nyaring dan keras jika digunakan didalam ruangan. Jika diluar ruangan? Ya, masih kedengaran namun tidak sebaik apabila berada di dalam ruangan.

Kesimpulan nya? Seperti namanya, JBL Go ini memang punya desain yang mini sehingga mudah untuk dibawa-bawa. Dengan ukuran nya yang kecil dan tahan lama, speaker satu ini masih layak untuk kamu beli ditahun 2019. 

Namun, tentu saja. Desain yang jadul, masih menggunakan port micro-sd dan harga yang masih diatas 200 ribu menurut saya pribadi bisa menjadi pertimbangan untuk tidak membeli produk ini. 

Oke, kayaknya segitu aja dulu kali ya buat review dari JBL Go First Generation ini. Jangan lupa untuk baca artikel lainnya di website Muabeyond.com atau tonton video nya juga di kanal youtube Muabeyond Official.

Sekian dari Muabeyond, saya pamit.

Jaa Mata~

Read More

Wednesday, July 17, 2019

Kenapa Ministop Jepang Membuat Harga Onigiri Menjadi 100 Yen?

Kenapa Ministop Jepang Membuat Harga Onigiri Menjadi 100 Yen?
Benkyou Episode 1
Oleh: Muabeyond | Editor: -

-


Kenapa ya kira-kira, Ministop membuat harga onigiri-nya menjadi 100 Yen ?


Kalau ada yang belum tahu, Ministop merupakan salah satu brand convenience store atau kombini yang terkenal di Jepang. Oleh karena itu, sama seperti kombini lainnya, Ministop juga menjual salah satu makanan khas Jepang, yaitu: Onigiri.

Namun, beberapa minggu ini, situasinya sedikit berbeda. Harga onigiri yang biasanya bisa mencapai 135 Yen tanpa pajak, kini semuanya bisa dibeli dengan hanya 108 Yen setelah pajak.

Tapi, ada 2 pertanyaan yang muncul. Kenapa sih Ministop melakukan hal tersebut? 
Terus, apa Ministop tidak akan rugi?


Ternyata, mengubah harga onigiri menjadi 100 Yen tanpa pajak adalah strategi pemasaran yang dilakukan oleh brand kombini satu ini untuk menggaet pelanggan datang ke gerai mereka.


Di Jepang, Onigiri merupakan salah satu makanan yang paling banyak dibeli dari convenience store atau kombini. Dengan memanfaatkan kepopuleran dari onigiri ini, Ministop berharap akan banyak pelanggan yang akan datang belanja ke gerai-gerai Ministop karena murahnya harga onigiri tersebut. Pihak Ministop juga berharap, para pelanggan yang datang untuk membeli onigiri juga ikut membeli barang-barang lain yang dijual di Ministop.

Agar semakin meyakinkan, pihak Ministop juga menyatakan bahwa mereka tidak sedikitpun mengubah komposisi dan resep dari onigiri yang kini dijual di harga 100 Yen (Red: 14000 Rupiah). Memang, komitmen ini berakibat cukup besar yang menyebabkan kecilnya margin keuntungan dari penjualan onigiri. Untuk tetap bertahan, Ministop juga melakukan strategi lainnya, yaitu mengurangi jenis rasa onigiri yang dijual. 

Lantas, apakah menurut kamu strategi ini akan berhasil?

Kalau suatu saat Indomaret dan Alfamart melakukan strategi yang sama di Indonesia, kira-kira akan berhasil juga tidak ya?

Sekian dari artikel kali ini, kita jumpa di cerita-cerita berikutnya.

Kalau teman-teman suka dengan cerita-cerita dari blog Muabeyond.com, Jangan lupa untuk subscribe blog ini disini. Kunjungi juga channel youtube Muabeyond untuk konten-konten menarik lainnya. 
Read More

Tuesday, June 18, 2019

Bangga dan Kecewa disaat Bersamaan: KRL Jabodetabek (IND)

Bangga dan Kecewa disaat Bersamaan: KRL Jabodetabek
Sebuah Opini

Iken Episode 1
Oleh: Muabeyond | Editor: -
-

KRL Jabodetabek merupakan salah satu transportasi publik terpopuler di wilayah Jabodetabek. Namun, KRL Jabodetabek tersebut tidak selalu indah seperti yang terlihat saat ini.



Sekitar 15 tahun yang lalu, KRL Jabodetabek merupakan salah satu transportasi publik paling mematikan di Indonesia. Bagaimana tidak, jumlah kereta yang terbatas, penumpang yang berlebihan, sistem kereta yang jauh dari kata baik, bahkan penumpang bisa duduk diatas atap kereta membuat transportasi ini menjadi salah satu transportasi publik paling buruk di Indonesia. Memang harganya yang cukup bersahabat dengan kantong para penduduk di Indonesia lah yang membuat para penumpang tidak terlalu mempedulikan hal-hal buruk tersebut.

Namun, tim KRL Jabodetabek benar-benar dapat diacungi seluruh ibu jari yang kita punya. dalam kurun beberapa tahun setelahnya, KRL jabodetabek akhirnya berubah 180 derajat menjadi salah satu transportasi publik terbaik di Indonesia. Tidak hanya itu, KRL Jabodetabek juga bisa bersaing dengan beberapa sistem transportasi publik di negara-negara tetangga. Jika saya boleh jujur, saya merupakan penggemar berbagai jenis mode transportasi kereta. Oleh karena itu, saya sangat senang dan bangga dengan perubahan dari KRL yang ada di Indonesia.


Namun, dibalik rasa bangga tersebut, tidak bisa dipungkuri bahwa terselip beberapa kecewaan saya kepada KRL Jabodetabek terhadap keputusan yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Benar, kekecewaan ini terpengaruh oleh pengalaman saya saat mencicipi teknologi kereta di negara tetangga jauh. Namun, saya sangat yakin jika KRL Jabodetabek seharusnya bisa menerapkan hal-hal tersebut. Inilah beberapa kekecewaan saya terhadap keputusan KRL Jabodetabek yang menurut saya pribadi tidak dipikirkan secara matang dalam proses penerapannya.

1. Tidak menggunakan teknologi contactless RFID pada kartu elektronik KRL

Ya, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa KRL Jabodetabek mengganti sistem tiket biasa dengan menggunakan sistem kartu elektronik (uang elektronik) berbasis RFID. Hal ini merupakan salah satu yang sangat senangi karena membuat sistem gerbang untuk KRL dapat terkontrol lebih mudah. Namun, sayangnya teknologi yang digunakan masih kartu RFID biasa.

Oke, mungkin ada yang bertanya apa itu RFID? nah penjelasan detailnya mungkin akan saya bahas di artikel lainnya karena akan masuk ke ranah teknis. Namun, intinya, RFID adalah teknologi yang dipakai pada kartu elektronik atau uang elektronik yang saat ini dipakai dibanyak tempat di dunia. Tentunya salah satunya adalah Kartu multi trip KRL Jabodetabek ataupun kartu uang elektronik lainnya.

Nah sayangnya RFID yang digunakan KRL masih RFID biasa sehingga untuk menggunakannya perlu menempelkan kartu dan reader sangat dekat. Padahal, Contactless RFID di sisi lain dapat digunakan tanpa harus bersentuhan langsung antara kartu dengan reader. Teknologi contactoless RFID ini sudah digunakan di beberapa negara seperti sistem gerbang pada Japan Railway atau Osaka Metro.

"Tapi, bukannya kalau lebih canggih harganya pasti lebih mahal? Kita kan harus meminimalisir biaya yang digunakan?"

Benar, hal itu benar banget. Teknologi yang lebih baik berimbas pada naiknya biaya yang harus diinvestasikan. Kalau kita bandingkan saja, kartu (uang) elektronik di Indonesia rata-rata mempunyai kisaran harga 25 ribu rupiah dan tidak bisa di refund sedangkan suica milik JR-East jepang mempunyai kisaran harga 60 ribu rupiah dan refundable dengan syarat. Belum lagi kalau kita menghitung teknologi yang digunakan pada reader-nya.

Namun, keunggulan pada sistem contactless RFID akan sangat membantu para pengguna KRL dan petugas KRL. Kenapa? Teknologi contactless RFID mempunyai waktu pembacaan yang lebih cepat dari pada RFID biasa dan tidak membutuhkan kontak langsung antara kartu dan readernya sehingga lebih mudah digunakan. Hal ini akan berakibat baik pada saat terdapat arus masuk dan keluar stasiun karena prosesnya menjadi lebih cepat.

Walau menurut banyak orang, fitur ini tidak terlalu dibutuhkan, namun saya tetap percaya jika KRL menggunakan teknologi ini akan membuat sistem kereta yang lebih baik.

2. Sistem pembelian kartu sekali jalan yang rumit

Salah satu fitur paling tidak efisien di KRL Jabodetabek adalah saat ingin melakukan perjalanan single trip. Kenapa? Karena memakan begitu banyak proses dibandingkan dengan proses multitrip.

Coba kita bandingkan. Jika menggunakan kereta dengan uang elektronik atau kartu multitrip maka yang harus dilakukan sebelum perjalanan hanyalah memastikan saldo perjalanan yang cukup. Namun, untuk perjalanan singletrip, maka yang harus disiapkan adalah pergi membeli tiket perjalanan singletrip sesuai dengan destinasi, melakukan perjalanan dan jangan lupa untuk mengembalikan kartu singletrip kepada petugas/mesin.

Jika dilihat sekilas memang tidak terlalu rumit, namun praktik didunia nyatanya ternyata mengembalikan kartu kepada petugas/mesin ternyata menghabiskan waktu yang cukup berarti. Apalagi pengguna KRL yang banyaknya luar biasa. Hal ini diperparah dengan kehidupan ibukota merupakan yang serba cepat.
Sudah seharusnya KRL menyediakan sistem lain yang lebih ramah untuk para pengguna single trip.

3. Penggunaan gerbang yang masih menggunakan rotasi besi

Salah satu keputusan yang paling saya tidak suka dari KRL Jabodetabek adalah gerbangnya yang menggunakan sistem rotasi besi. Bukan tanpa alasan, namun gerbang rotasi besi benar-benar jauh dari kata efisien.

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa KRL menjadi salah satu sistem transportasi yang paling populer dikalangan masyarakat. Hal ini mengakibatkan banyaknya kegiatan masyarakat yang mulai bergantung kepada KRL. Hal ini lah penyebab utama saya mengatakan gerbang rotasi besi tidak efisien.

Pertama, gerbang rotasi mesin mempunyai daya lingkup kecil. Hal ini mengakibatkan orang yang membawa koper atau barang bawaan lainnya akan sulit melewati gerbang tersebut.

"Paling itu kamu doang kali? Yang lain kayaknya tidak seperti itu deh"

Ya mungkin benar. Tapi pengalaman setiap bulan minimal 2 kali harus keluar masuk melalui gerbang rotasi besi membawa minimal 1 koper selama 2 tahun bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Bukan hanya sulit, namun juga memakan waktu.

4. Tidak adanya integrasi tiket kereta non-KRL dan KRL

Sayangnya, sistem yang dibuat oleh KRL dan KAI tidak terintegrasi dengan baik. Walau inovasi-inovasi yang baik telah diimplementasikan oleh KAI dan KRL (seperti self checkin ataupun gerbang menggunakan kartu), namun para pembuat keputusannya lupa untuk mengintegrasikan keseluruhan sistem ke sebuah sistem yang utuh.

Dampaknya? Tentu saja bahwa sistem otomatis ini akhirnya masih membutuhkan bantuan manual seperti saat penumpang kereta api jarak jauh yang tiba pada salah satu stasiun di Jabodetabek harus menunggu petugas untuk dapat membukakan pintu gerbang tersebut.

Bukankah ini menjadi sistem yang redundan?

5. Tidak terintegrasi transportasi publik lainnya

Hal ini merupakan salah satu potensi yang benar-benar kurang dimanfaatkan oleh KRL Jabodetabek. Pasalnya, pembangunan stasiun tidak mendukung hubungan langsung dari transportasi publik lainnya, seperti busway, metromini dan lain-lain.

Tidak dapat dipungkiri, orang-orang yang tidak terbiasa dengan daerah disekitar stasiun akan sangat kesulitan untuk beradaptasi dengan cepat dalam mencari transportasi publik lainnya setelah selesai menggunakan KRL.

Walau memang hal ini terlihat tidak terlalu penting, namun memberikan layanan terbaik kepada pelanggan merupakan salah satu cara transportasi publik dapat terus berinovasi menjadi lebih baik.

Ya, kira-kira begitulah 5 kekecewaan yang saya punya terhadap KRL Jabodetabek. Namun, terlepas dari 5 hal tersebut, saya pribadi sangat bangga dengan perubahan yang dilakukan oleh KRL Jabodetabek. Walau masih banyak kekurangan, namun selama KRL mau melakukan perbaikan dan mendengarkan permintaan konsumen, maka KRL Jabodetabek akan menjadi salah satu transportasi publik terbaik di Indonesia.
Sekian dari Muabeyond, pamit dahulu.

--


Teman-teman, kunjungi juga channel youtube Muabeyond dengan klik disini yang isinya juga tidak kalah menarik dengan apa yang ada di blog ini. Penting... Subscribe, Like and share juga ya :D
Terima kasih banyak atas supportnya =D

Read More

Saturday, May 18, 2019

2 Minutes on Nagoya Shirakawa-go Journey


2 Minutes on Nagoya Shirakawa-go Journey
by: Muabeyond | Editor: -

-

So, I had this trip last December. I went with my friend to the Shirakawa-go through Nagoya. I just want to make a compilation about what can you see on Nagoya and Shirakawa-go. Maybe, I will make another video that tells the story behind it? Let's see :)
Read More

Friday, May 17, 2019

Online Learning Without Paying Extra? Try Udemy!

Online Learning Without Paying Extra? Try Udemy!
By: Arubiyya | Translator: Muabeyond | Editor: -

-


Assalamu'laikum. Welcome back again to the this session. How are you, my friends? Hopefully, you are always healthy and cheerful.

This time, I want to give a first impression about one of the online learning platforms that I have often used, can you guess? Yap, Udemy.

Read More

Tuesday, May 7, 2019

The Message for New Employee (Extended)



The Message for New Employee (Extended)
-
by Muabeyond

Right after 2 months I got accepted as a new employee in the company, the company made an arrangement for the all of the newcomer having a short interview with the director and some section manager. That is a tense situation for a new employee to meet one of the most important people inside the company.

I believe the purpose of this meeting was to understand more about the new employee. I felt so much pressure on that meeting. However, there is a moment that I never forget from that moment until today. The message from director.

[Everyone, the new employee, has a great potential and high spirit as well. But from me to all of you, never lose that spirit, keep learning and become a global level employee. Don’t forget to learn English and master your English. When the first moment I enter this company, maybe the same age as all of you, our company still made a ship. Years later, we were not only making ship and made another thing. Now, our company is completely not making ship anymore. Everything changes. We may not know what happen, 10 or 20 years in the future. The only things that we must do right now is to predict the future, adapting with society needs without losing our identity] is the message that the director said to us.

After that meeting, I thought about that message for months until I officially become the new employee. After thinking and trying to find what is the real and hidden message from director, I believe there are 5 things that we must have an attention to that message.


1. Human Life and Need always change

Before the modern life happen, thousands years ago human survived by hunting animal around us. Living as a group, without proper technology, a spear is enough for surviving in the harsh world.

Moving forward, we learned that living by hunting is not enough. We could survive in the short period. But, How about long period? How about the future? Our son, our grandson? Once again, human needs change. Human starts to realize that they need to build a community and changing lifestyle from hunting to produce. The growth of human civilization starts.

Moving further, humans started researching about science for supporting the new civilization. Many theories and discovery were found. This movement brought the technology to achieve something that's never been reached before. Machine and many things that make life become easier was starting to be applied in life.

Surprisingly, It doesn’t stop there. When steam engine found on early 70, every aspect of life turn 180 degrees. Industry, transportation and many aspects were being replaced with machines. The revolutionary steam engine motivated every researcher and scientist to boost innovation more and more.

And, right now, we enter the future, the industry revolution 4.0 that we are not only competing with human, but we are competing with the robot, the AI and every machine that smarter and faster compares than human capabilities. Human is always changing their lifestyle and needed according to what brings most benefit to them.

2. The current me is not enough

Remember the story from the beginning of this article, about the director experiencing how the company involve through the time? Yes, I believe we already understand what this point means.

This company history said that for the first time this company made, the company was created for shipbuilding purpose. through the years, no one doubt that this company was one of the best shipbuilding company in Japan.

To become a great company, we need more than just one speciality. This company did the same. For completely self-sufficient purpose, we also produced engines, boilers, bridges and many other businesses.

However, with one or another reason this company no longer builds a ship and completely running waste treatment plants, industrial plants, precision machinery, industrial machinery, steel mill process equipment, steel structures, construction machinery, tunneling machines, and power plant business.

Can you imagine how the world changes? Even we are one of the best in our speciality doesn’t mean we must satisfy with our current condition. Director and everyone that made of the decision of the company fully understand about this condition, that’s why they try to expand the speciality of the business.

Having one speciality is good, however, involving and innovating needs to be done for adapting with the society needs.

3. The big and global company status doesn’t not guarantee anything

The big company syndrome becomes more more dangerous this time. So many companies are being closed and taken down because they are too comfortable in their “big and global company” status and forget many aspects that made the company survive.

We all understand that in this era, Innovation is the most important thing that the company needs. Not only for the survival rate of the company, but also to create something better, something more efficient and something more creative to provide many solutions for human and earth problem.

There is a case, on 2000-era, one of the best phone company at that time, Nokia, was closed because losing a competition with their new competitor, Apple and Samsung. Who doesn’t know Nokia? A legendary brand that sold more a billion phone in the last decade and always become the leader of innovation.

However, when Apple told their new innovation with the iPhone and IOS and Samsung launched Smartphone with Android, Nokia didn’t want to accept those two innovations. Nokia still believes that their status as a leading company would make customer still need their product.

But, that is not how the reality works. People just wants the best thing that they have. Loyalty to a brand somehow can be swung by a new great thing with many features. Then, as being predicted, everything changed.

Android and IOS provided many features that can’t be used on Nokia’s phone. Nokia that known as the leader of innovation now only become a sidekick brand that quit the competition. Nokia refuses to accept new innovation and they paid with high price.

Ourselves, our company and our society will always crave for the innovation. There is no satisfaction, word for innovation and there is always new demands, new technology and new knowledge. We need to prepare everything. We need to be ready for the new things and new competition in our field.

4. Predict the future is an important thing to do

Until this time, so many examples has been shown about how a big global company has slowly become a mediocre company because wrong in decision making. No one can blame a company that late in joining the race of innovation, but once you are late, it is hard to stay in the competition.

Predicting the future trends and needs is one of the best strategy of every company to become stronger and bigger. A community involves with the time and always craving for a better, more efficient, more Eco friendly and cheaper for everything that they need.

For the example, 20 years ago, usage of internet is really low compare today. Internet at that time was something that sound luxury and had many limitations. However, the creator of Internet believes that the Internet will become one of the most important things in the future.

Everyone with the same perspective starts to develop their own engine on the internet. many years later, the prediction hits the jackpot. Everyone really loves how the internet can support and help many problems and life. For example, sending mail or chatting with a low price or free, having a video calling for free, shopping service directly from the house and many more. In fact, nowadays, everyone in the world almost can’t live without the internet at all.

When we can adapt and understand how the community and the environment works, we will see the image of the future that maybe will happen in the future.

5. We must proud to be ourselves

We can’t deny that globalization happens around the world made a unique phenomenon called global citizen. So many people that live outside Japan comes to Japan for the purpose of working and vice versa. The working environment has now become a global environment.

There is a proverb saying that “When you are in Rome, act like a Rome”. However, I believe this is only 50% correct. It is correct that when someone comes to a country with so much different in culture and regulation, we need to respect every single of their culture and the regulation because it is part of the lifestyle.

However, everyone has their identity that they carry before coming to Japan or leaving Japan. We must respect diversity among us, but doesn’t mean that we forget about our own culture and just blend 100 %.

We adapt to the environment and still be proud with our own culture and history.

I understand completely that all of 5 things are not something easy to implement in every employee, especially new employee that still learn about the company life and culture. However, I believe that we are already living in the future where everything become faster and bigger. Our community changes fast and nothing can’t stop it. Ourselves and our company needs to support these changes for bringing useful value to society with technology and sincerity to contribute to a prosperous future.

Read More

Monday, May 6, 2019

Ramadhan Daily Blog on Nowhere: Episode 1 - The beginning


Ramadhan Daily Blog on Nowhere
-
Episode 1: The Beginning

Assalamua'laikum all of my friends. Welcome to Muabeyond new blog series: Ramadhan on Nowhere. My apology for not post many stories because I had training in my company and after that, I got a slump so I didn't have the motivation to write. However, now I am back and ready to write.

Read More