Sunday, June 7, 2020

E-KTP DAN POTENSINYA : SEBUAH IDE GILA

E-KTP DAN POTENSINYA : SEBUAH IDE GILA

-



Assalamua’laikum Sob! Semoga sehat selalu ya.

Masih menyambung dengan pembahasan tentang kartu tanda penduduk di tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin membahas tentang E-KTP di Indonesia. Mungkin semua sudah tahu tentang apa itu E-KTP. Namun, untuk orang yang belum paham, E-KTP adalah kartu tanda penduduk elektronik. Tentu saja, kartu tanda penduduk ini harusnya dimiliki oleh semua warga negara Indonesia apabila sudah berumur 17 tahun.

Tapi jika sobat sekalian mengikuti cerita dan drama dari E-KTP, sobat semua pasti tahu bahwa banyak sekali masalah yang muncul karena E-KTP ini dan membuat potensi sesungguhnya dari E-KTP ini tidak pernah tereksplor.

Lalu? Bagaimana sih pendapat saya dengan E-KTP ini ?

Bertahun-tahun setelah diluncurkan, pada penerapannya E-KTP saat ini hanya menjadi kartu biasa yang tidak ada bedanya dengan kartu tanda penduduk lama berbentuk kertas. Bahkan, karena E-KTP memerlukan chip RFID untuk pembuatannya, saat ini malah memunculkan masalah baru yaitu tidak adanya pasokan logistik untuk pembuatan E-KTP bagi penduduk yang baru bisa membuat KTP.

Sebagai seorang lulusan jurusan electrical engineering (walau saya tidak punya kemampuan yang mumpuni), sebenarnya E-KTP dapat menjadi kartu ampuh untuk menyimpan banyak data penting yang essensial bagi masyarakat Indonesia. Kali ini saya akan menyebutkan 3 hal yang harusnya bisa terwujud dengan adanya E-KTP.



1.  Penggunaan big data E-KTP untuk proses verifikasi
Seperti yang sudah diketahui khalayak ramai, fungsi utama E-KTP tentu saja adalah untuk melakukan verifikasi data kependudukan. Menggunakan KTP versi lama, maka verifikasi hanya secara manual. Bahkan, kadang kala bisa ditemukan beberapa kasus dimana KTP tersebut ternyata KTP palsu yang tidak resmi di keluarkan oleh pemerintah.

Kalau E-KTP ? Disini magic sesungguhnya.

E-KTP mampunyai chip RFID didalam kartunya yang berisi informasi tentang pemilik kartu. Hal yang paling menarik adalah RFID ini mempunyai ID yang unik sehingga tidak akan ada dua kartu yang mempunyai ID yang sama. Bahkan, seharusnya akan sangat sulit untuk dapat memalsukan E-KTP karena data yang ada telah tersimpan di database sehingga data yang mencurigakan pasti akan dengan mudah terdeteksi. Tidak hanya itu, karena data ini bersifat digital maka data ini harusnya bisa dengan mudah di akses oleh banyak pihak tentunya dengan standar protokol keamanan yang ketat.

Lalu, bagaimana seharusnya E-KTP dipakai? Saat melakukan seluruh pendaftaran yang memerlukan verifikasi dengan KTP, harusnya pihak yang melakukan verifikasi mempunyai akses infrastruktur dan data tentang E-KTP. Tinggal memindai E-KTP maka harusnya seluruh data seseorang akan tersedia. Sayangnya, konsep ini tidak diberlakukan bahkan untuk banyak instansi milik negara seperti Bank milik negara ataupun kantor administrasi kependudukan.

Pada akhir tahun 2019 saja, ketika ide tulisan ini muncul, satu-satunya lembaga yang saya tahu memanfaatkan E-KTP untuk melakukan verifikasi adalah salah satu bank swasta terbesar di Indonesia yang ada central dan asia di namanya. 

Jika E-KTP hanya digunakan seperti KTP versi lama, apa gunanya ada E-KTP?

2.  Akses administrasi yang berhubungan dengan kependudukan
Salah satu potensi yang bisa diekspolitasi dengan E-KTP adalah merekam tentang kondisi kependudukan dari seseorang. Lalu, maksudnya bagaimana ?

Pertama, dengan adanya E-KTP harusnya data kependudukan dengan cepat dapat diubah. Misal, alamat, agama dan status pernikahan adalah contoh-contoh data yang harusnya tidak dicetak permanen di E-KTP dan apabila terjadi perubahan maka akan dengan mudah diubah pada databese maupun E-KTP. Bahasan tentang desain E-KTP pun pernah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya.

Kedua, status dari penduduk tersebut. 22 Tahun hidup di Indonesia, saya banyak mengenal tentang surat rekomendasi dari RT/RW atau sejenisnya perihal tentang status ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Namun, sedikit orang yang tahu bahwa kadang kala tidak semua orang mempunyai waktu yang banyak untuk setiap saat menemui kepala RT atau kepala RW untuk mengkonfirmasi keaadan kehidupannya. 

Seperti yang sudah saya jabarkan juga, bahwa E-KTP bisa menyimpan banyak data. Kenapa tidak menjadikan E-KTP sebagai bukti bahwa seseorang punya surat rekomendasi dari RT/RW nya dengan cara memasukkan data baru kedalam E-KTP tersebut? Sehingga, apabila E-KTP ini di pindai untuk diambil datanya maka status ataupun surat rekomendasi tersebut sudah ada dan dapat dengan mudah diakses oleh mereka yang membutuhkan.

3.  Memberikan akses data kependudukan yang cepat
Terakhir, sejujurnya ini mirip dengan alasan nomor 2. Namun, data yang saya maksud kali ini adalah tentang kartu keluarga. Sadar atau tidak sadar, kartu keluarga adalah hal yang juga cukup penting dalam proses verifikasi.

Namun, membawa salinan dari kartu keluarga setiap saat kadang menjadi hal yang merepotkan bagi sebagian orang. Apalagi, ukuran dari kartu keluarga tidaklah kecil. Dengan menggunakan E-KTP, maka data dari kartu keluarga dapat dimasukkan kedalam kartu.

Dengan menggunakan infrastuktur yang tepat, maka dengan hanya memindai E-KTP kita dapat mencetak salinan kartu keluarga kapanpun kita mau tanpa harus membawa kartu keluarga yang asli ataupun salinannya setiap saat.

Tentu saja, 3 alasan diatas hanyalah konsep penerapan yang ada didalam analisis saya. Bisa saya, saya belum tahu bahwa masih banyak kemungkinan potensi yang dimiliki oleh E-KTP itu sendiri. Namun, seperti judul dari tulisan ini yaitu IDE GILA yang mana merupakan ide yang sangat sulit untuk diwujudkan, saat ini E-KTP akan sangat sulit untuk dikeluarkan potensi sebenarnya. Dan alasan utamanya bukanlah karena kasus korupsi atau drama pada saat pengadaannya.

Bagi saya, E-KTP merupakan sebuah inovasi yang revolusioner dibidang kependudukan. Namun malang tak bisa dielak, pengadaan E-KTP menurut saya pribadi terlalu cepat dan tidak memikirkan infrastruktur yang dapat menyokong fungsionalitas dari E-KTP itu sendiri. Banyak pihak yang memanfaatkan pengadaan E-KTP hanya untuk kepuasannya pribadi padahal pengadaan E-KTP ini dapat berpotensi untuk menjadi ladang pahala jariyah karena E-KTP harusnya dapat memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat Indonesia.

Apakah E-KTP bisa menjadi kartu yang spesial apabila drama korupsi tidak pernah ada? Bukan saya yang bisa menjawab nya.

Sekian dari saya, sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya.
Read More

Friday, June 5, 2020

BELAJAR DARI RESIDENCE CARD JEPANG : SEBUAH INSPIRASI DESAIN

BELAJAR DARI RESIDENCE CARD JEPANG : SEBUAH INSPIRASI DESAIN

-



Assalamu’laikum sob! Semoga sehat selalu ya.

Kalau berbicara tentang desain produk, sudah tidak bisa dielakkan bahwa Jepang bisa dijadikan referensi utama. Serius! Kalau teman-teman pergi ke Jepang atau pun membeli barang-barang buatan Jepang, bisa dilihat bahwa mayoritas desain produk di Jepang sangat memperhatikan detail dan fungsionalitas. Hal ini juga yang membuat saya ingin menulis tentang belajar desain di tulisan ini walaupun saya pribadi tidak mempunyai latar belakang desain. Tanpa menunggu lebih lama, kita mulai masuk ke pembahasan utama : Belajar dari kartu tanda penduduk asing.

Bagi warga negara Jepang, sejatinya mereka tidak mempunyai kartu tanda penduduk. Oleh karena itu, biasanya surat izin mengemudi (unten menkyoshou/運転免許証) atau passport lah yang digunakan sebagai sarana verifikasi. Kadang kala juga dapat menggunakan Resident Card (juuminhyou/住民票) yang bentuknya mirip dengan kartu keluarga. 

Tapi, hal yang berbeda dengan warga negara asing. Setiap warga negara asing yang tinggal lebih dari 3 bulan di Jepang, akan mendapat kartu tanda penduduk (zairyuu kaado/在留カード). Tentu saja, mirip dengan kartu tanda penduduk di Indonesia, Residence card untuk negara asing mengandung beberapa informasi seperti, nama, jenis kelamin, kewarganegaraan, Jenis visa dan informasi lainnya. 

Ada satu hal yang sangat menarik untuk dibahas, yaitu kolom informasi untuk alamat rumah pada Residence card. Informasi seperti nama, jenis kelamin, tanggal lahir dan informasi lainnya merupakan informasi yang sangat kecil kemungkinan diubah. Oleh karena itu, informasi ini dicetak permanen pada Residence card

Namun, informasi alamat rumah tidak dicetak permanen dan mempunyai kolom pribadi untuk diisi. Hal ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

 


Tentu saja hal ini menjadi menarik karena memang alamat rumah adalah hal yang bisa berubah secara dinamis. Apalagi sistem surat di Jepang yang cukup modern dan retro secara bersamaan membuat hal ini menjadi sangat penting. Untuk hal ini kita bahas di tulisan lainnya.

Namun, hal ini sangat baik apabila juga diterapkan di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, jika dibandingkan dengan kartu tanda penduduk di Indonesia, semua informasi yang tertera dicetak secara permanen. Karena proses pembuatan kartu tanda penduduk yang cukup rumit apabila terdapat informasi yang berubah (contoh: alamat), banyak orang yang akhirnya tidak mengubah informasi yang ada pada kartu tanda penduduk. 

Padahal, apabila kita pindah ke tempat baru, katakan lah pindah untuk belajar di universitas, bekerja, dan atau kegiatan lainnya yang membutuhkan waktu lama, maka sebenarnya alamat tempat tinggal pun bisa dikatakan berubah. 

Memang, jika dilihat secara sekilas, tidak ada perbedaan yang kontras jika membandingkan kartu tanda penduduk Indonesia yang ada saat ini dan konsep dari residence card nya penduduk asing di Jepang. Walau sebenarnya hal ini pun dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran akan pentingnya informasi kependudukan yang ada di masyarakat saat ini. Topik ini juga akan saya bahas di tulisan yang lain.

Hal detail seperti inilah yang kurang diperhatikan pada saat mendesain kartu tanda penduduk di Indonesia. Bayangkan, jika alamat pada kartu tanda penduduk dapat diubah sesuai dengan tempat menetap, maka penggunaan kartu tanda penduduk sebagai sarana konfirmasi akan lebih valid dibandingkan dengan konsep yang ada saat ini. Hal ini lah yang membuat saya cukup tertarik untuk membahas inspirasi desain dari residence card untuk warga negara asing di Jepang.

Sekian dari saya, sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Read More

Wednesday, June 3, 2020

GARIS WAKTU

GARIS WAKTU

-


Setelah sekian lama tidak menulis dan rasanya pengen nulis lagi. Ada banyak hal yang ada dalam pikiran tapi entah kenapa rasanya malas banget untuk nulis. Akhirnya ku memutuskan, untuk tahun 2020 ini, tulisan pertama nya adalah tentang curhat.

Tahun 2019 merupakan tahun yang unik dari segi emosi buatku. Banyak konflik batin dan hal-hal yang memebuatku berpikir ulang, "Hidupku sekarang ini buat apa sih?"

Coba ya kita uraikan. Ketemu teman baru di perusahaan, pisah sama teman baru diperusahaan, Puasa jauh dari orang tua, ngerayain lebaran jauh dari rumah, ditolak pas ngajak nikah, pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah setahun, wawancara kerja lewat skype, gagal daftar S2, para sahabat banyak yang menikah, tidak bisa hadir nikahan abang sepupu dan masih banyak cerita-cerita yang membuat emosi ku naik turun.

Tapi, dari semua hal itu, realita kehidupan setelah kuliah lah yang membuatku banyak berpikir tentang apa tujuan yang ingin kujalani dalam kehidupanku. Kenapa?

Karena ternyata banyak hal yang berubah. Sahabat dan teman baik yang biasanya bisa kutemui tiap hari, kin mungkin hanya bisa kutemui 1 sampai 2 bulan sekali ketika kami memutuskan untuk kumpul. Bahkan ribut dan sibuknya kota yang aku pikir tidak pernah akan kurindukan, sekarang pelan-pelan mulai muncul dalam mimpi di malam hari.

Awalnya hidup sendiri jauh dari keramaian, menyendiri adalah hal yang menyenangkan buatku. Bayangkan saja? aku tidak harus bersoasialisasi dan menghadapi ekespektasi orang-orang yang ditujukan padaku. Tapi ternyata aku salah, sentuhan batin dengan bertukar sapa atau percakapan dengan orang lain ternyata sangat penting.

Semua memang baru sadar ketika nikmat itu telah hilang diambil.

Ditambah lagi, ketika aku mengetahui kabar-kabar sahabat dan teman-teman dekatku, mereka seperti sedang hidup dalam impian dan rencana mereka masing-masing. Menikah, lanjut studi S2, kerja di perusahaan impian, dan masih banyak lagi.

Don't get me wrong. Bukannya ku cemburu kepada apa yang mereka raih, aku hanya cemburu karena mereka seperti punya tujuan yang jelas dalam hidupnya sedangkan aku hanya mengikuti arus yang datang. Walaupun aku tidak tahu kemana arah arus ini akan membawaku. Laut? Kolam? atau kubangan lumpur?

Tapi satu yang aku rasakan, sepertinya aku merasa hampa karena aku pelan-pelan menjauh dari Allah. Aku banyak melakukan sesuatu menggunakan impuls tanpa menyerahkannya kepada Allah.
Sudah saat nya aku kembali, menyusun timeline hidup ku dari awal lagi. Menyesuaikan langkah dengan kemampuanku.

Bukankah yang terpenting aku harus bisa menjadi lebih baik dari diriku dimasa lalu?


Read More

Wednesday, November 27, 2019

Harusnya pos Indonesia sudah menjadi raja di Indonesia

Harusnya pos Indonesia sudah menjadi raja di Indonesia


Assalamua'laikum sob, kembali lagi di blog ini.

Walaupun mungkin sudah basi karena isunya tidak viral lagi dimana pos Indonesia dikabarkan bangkut (Red: Pos Indonesia diisukan bangkut), namun selama beberapa bulan ini, hal tersebut menjadi salah satu dalam pikiran saya. Bagaimana bisa salah satu BUMN tertua di Indonesia dengan target pasar dan konsumen yan terus bertumbuh malah menjadi salah satu perusahaan yang dikabarkan bangkrut.

Bagaimana tidak ya, jika kita bandingkan apple to apple dengan perusahaan yang sama asal jepang, Japan Post, kondisi nya bagaikan langit dan bumi. Faktanya saja, sampai tahun 2019 ini, Japan Post adalah salah satu perusahaan Jepang yang paling besar duduk di peringkat 6 jepang dan 66 dunia dengan valuasi perusahaan sekitar 44,5 Miliar USD.

Bisa saja ada yang mengatakan: "Tapi itu kan di Jepang, mereka kan negara maju. Perbandingannya tidak apple to apple nih" atau "Masa membandingkan perusahaan di negara maju dan negara berkembang, ya tidak masuk akal".

Tentu saja, saya tidak membandingkan Japan Post dan Pos Indonesia secara langsung. Saya juga tidak mempunyai ekspektasi bahwa Pos Indonesia akan berada di jajaran 100 perusahaan dengan valuasi tertinggi di dunia seperti Japan Post. Namun, fokus saya adalah pada keadaan perusahaan pos Indonesia yang punya target konsumen 2 kali lipat dari Japan Post namun malah diisukan bangkrut sampai harus berhutang untuk menggaji karyawan.

Tidak. Ini tidak seharusnya terjadi. Pos Indonesia harusnya menjadi salah satu BUMN terkaya di Indonesia. Namun, ada asap pasti ada api. Selalu ada alasan kenapa akhirnya Pos Indonesia berada di posisi saat ini. Setelah saya menelusuri sendiri, saya cukup berani mengatakan ada 2 alasan kenapa pos Indonesia berada di kondisi krisis saat ini.
disclaimer : semua yang tertulis di tulisan ini adalah murni pemikiran dan pengalaman pribadi sehingga sangat mungkin untuk terjadi kesalahan. Jika teman-teman menemukan kesalahan ataupun perbedaan pendapat, silahkan berdiskusi dengan sopan dan kita akan menemukan jalan tengahnya.

1. Terlambat berinovasi dan tidak berhasil mendefinisikan system

Sebagai perusahaan tertua yang bergerak di bidang logistik dan pos, dapat dikatakan bahwa pos Indonesia terlambat berinovasi dan gagal membuat sistem pos yang kokoh untuk menjadi pondasi dari Pos Indonesia sendiri.

Sebagai contoh, dalam urusan logistik, inovasi pengiriman sehari sampai lebih dulu diperkenalkan oleh perusahaan saingan dengan sistem yang telah mereka uji. Tepat saja, butuh waktu oleh Pos Indonesia untuk mengeluarkan produk yang sama dengan perusahaan rival.

Kemudian, dalam urusan sistem pos, masuknya era digital yang begitu cepat membuat pos Indonesia bingung. Orang-orang mulai banyak beralih menggunakan surat elektronik dan membuat sistem pos surat tidak sepopuler dahulu. Padahal dalam kondisi seperti ini, Pos Indonesia harusnya memeras ide sampai tetes terakhir untuk mendapatkan cara agar sistem pos tetap eksis dan tidak tergusur perkembangan teknologi.

Tentunya, kedua hal tersebut dari banyak hal lainnya.

2. Kurangnya peningkatan layanan informasi

Pada faktanya, di era digital ini, orang-orang akan lebih mudah untuk menemukan seluruh informasi di Internet dibandingkan harus datang secara langsung ke kantor cabang. Sayangnya, kesempatan ini tidak dimanfaatkan baik oleh pos Indonesia.

Sebagai contoh saja, untuk mendapatkan informasi tentang pengiriman barang ke luar negeri. Hal-hal terkait aturan, besaran spesifik, larangan hingga biaya yang diperlukan tidak mudah untuk didapatkan. Walaupun memang tidak fatal, namun faktor informasi kadang menjadi hal-hal yang sangat dipertimbangkan oleh konsumen saat memilih jasa. Hal ini dikarenakan saat ini informasi merupakan sebuah hal yang harusnya sangat mudah untuk didapatkan.

3. Kurangnya peningkatan layanan konsumen

Dan terakhir adalah layanan konsumen. Jika kita datang ke kantor cabang pos Indonesia terdekat, proses yang harus dilalui bisa terbilang cukup merepotkan. Tidak adanya jalur pemahaman yang jelas, kurangnya informasi-informasi layanan dan seluruh informasi layanan hanya dibebankan kepada pegawai dari Pos Indonesia.

Walaupun tidak di semua kantor cabang seperti ini, namun mayoritas dari kantor cabangnya masih perlu banyak peningkatan di sektor layanan konsumen.

Ya kira-kira itu adalah alasannya. Mungkin di artikel selanjutnya, saya akan coba bahas tentang bagaimana Japan Post bisa menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Jepang.

Sampai jumpa~
Read More

Tuesday, November 26, 2019

Pergi keluar negeri, tukar uang di Indonesia atau di luar negeri ?

Pergi keluar negeri, tukar uang di Indonesia atau di luar negeri ?


Assalamua’laikum sob.

Pergi keluar negeri, tukar uang di Indonesia atau di luar negeri ?

Sebenarnya, Kalau kita disuruh milih langsung, saya rasa tidak ada jawaban yang pasti. Kok gitu? 

Oke, sebelum kita bahas itu, saya mau cerita dikit tentang pengalaman saya. Ketika saya berangkat dari Jepang menuju singapura, saya melakukan eksperimen untuk melihat money changer di negara mana yang lebih baik nilai kursnya. Apakah negara asal atau negara tujuan (dalam kasus ini kita akan membandingkan Jepang dan Singapura).

Nah ternyata sesuai dugaan saya, ketika saya menukarkan SGD di Jepang, tepatnya di kansai airport international, saya mendapati nilai kurs yang lebih kecil dibandingkan ketika saya menukar di changi airport Singapura. 

Kalau gitu udah jelas berarti jawabannya ? 

Tunggu dulu, belum bisa kita simpulkan.

Dilain waktu, ketika saya pertama kali datang ke osaka, saya juga kurang lebih melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan di singapura, namun kali ini saya berangkat dari Indonesia. Hasilnya ternyata nilai kurs di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di kansai.. 

Nah memang, pada umumnya nilai tukar kurs akan lebih tinggi jika kita menukar uang di negara tujuan. Namun, Rupiah bisa dikatakan buan mata uang yang cukup terkenal di dunia sehingga ketika ingin pergi keluar negeri kadang kala rupiah masih dipandang sebelah mata oleh beberapa money changer. Contohnya di beberapa money changer di manila, mereka tidak menerima rupiah sama sekali untuk kita tukarkan dengan peso. Hal ini terjadi karena memang jarang ada permintaan di daerah tersebut untuk mata uang rupiah sehingga sangat wajar apabila mereka tidak mau menerima rupiah sebagai uang yang bisa ditukar.

Urusan tukar menukar ini pun, sebenarna sangat berdampak pada jumlah wisatawan di negara tujuan. Contohnya malaysia dan singapur. Di dua negara tersebut, rupiah dihargai cukup tinggi karena memang sangat banyak wisatawan indonesia yang datang dan membuat jumlah permintaan rupiah pun meningkat. 

Nah balik lagi, kesimpulannya lebih bagus nukar dimana ?

Jawabannya kembali lagi ke kebiasaan masing-masing saja. Saya pribadi adalah orang yang terbiasa harus megang uang sebelum berangkat. Walau pun nilai tukar kursnya mungkin lebih rendah, tapi saya merasa lebih nyaman pergi ke negara orang dengan sudah memegang uang. Tapi ada juga orang-orang yang memang lebih nyaman nukar uang di negara tujuan. Bisa tarik dari ATM ataupun langsung menukar uang tunai karena beberapa alasan lain yang menguntungkan. 

Satu hal yang harus diingat adalah, sebelum menukar uang, tentu saja kita harus punya dulu uangnya.
:D

Read More

Sunday, November 17, 2019

Tersesat



Daun berguguran, suara burung berkicau, aktifnya anak anak bermain menemaniku renungan sore di tengah taman ini. Sekarang sudah musim gugur. Musim yang melambangkan perubahan dan persiapan. Bagaimana tidak? Pohon-pohon mulai menggugarkan daunnya, alami, mengetahui musim berat dingin akan datang.

Iri. Hanya itulah kata yang bisa kukatakan. Bahkan tumbuhan yang tidak Allah berikan nikmat seperti manusia, paham tentang waktunya dan nempersiapkan masa depannya. Pepohonan tahu bahwa musim berganti dan ada hal hal yang harus dipersiapkan dan dilalui.

Tetapi, aku. Lihatlah aku. Duduk terdiam, mengamati indahnya warna merah pepohonan ini, tanpa tahu arah dan apa tujuan ku kedepan. Ketika kudengar temanku yang lebih muda 2 tahun sedang menjalani studi PHD nya di belanda, ketika sahabat baikku sedang persiapan menyelesaikan studi master nya di eropa atau pun teman dekatku yang berhenti bekerja untuk mempersiapkan studi masternya di jepang, aku hanya bisa terdiam.

Aku tidak mengatakan bahwa tujuan hidupku adalah melanjutkan studi. Bukan. Jelas bukan. Namun ada hal hal yang kuinginkan yang mereka miliki. Rasa haus untuk belajar dan kemampuan memahami diri sendiri milik mereka rasanya ingin aku curi.

Geram.

Apakah aku akan terus hilang dalam lingkaran tak berujung? Seperti air yang mengalir tanpa tahu tujuan akhirnya, akan kah pergi menjelajahi lautan atau terjebak dalam kubangan lumpur yang kotor.

Apakah waktu ku akan datang? Untuk keluar dari rasa ketersesatan ini?

Osaka, November 2019
Read More

Thursday, September 12, 2019

Life in Seaside Japan - Prolog


Life in Seaside Japan
Prolog: Hidup di desa

-

Assalamua’laikum sob, selamat datang kembali di blog Muabeyond.

Sebelum kita masuk ke cerita seri ini, Saya sangat ingin meminta maaf apabila ada teman-teman yang ingin membaca lanjutan cerita seri dari “Those days that change everything”. Cerita seri tersebut masih hiatus karena saya belum menemukan ide lanjutannya. Namun, bersamaan dengan seri baru ini “Life in seaside Japan”, saya berusaha untuk tetap konsisten menerbitkan kedua seri tersebut walau mungkin banyak hampatan yang akan muncul. Oke, sekarang mari kita mulai serial ini.


--

Jepang. Sebuah negara di timur benua asia. Salah satu negara yang mempunyai sejarah yang sangat membekas dengan negara saya berasa. Namun, tentunya saat ini, gambaran citra negara Jepang bisa dibilang telah berubah sangat jauh dari gambarannya terdahulu.




Tentu saja, apabila mendengar kata “Jepang” saat ini, hal yang terbayangkan dalam benak adalah betapa ramainya kota, betapa canggihnya teknologi dan betapa mahal dan modernnya kehidupan di negara tersebut. Tak salah, karena saya pun berpikiran hal yang sama. Hanya saja, saya tidak pernah menyadari bahwa terdapat banyak cerita yang tersembunyi dan tidak terlihat ataupun diceritakan. Salah satunya, kehidupan di desa Jepang.

Haha, saya minta maaf. Intronya sedikit panjang dan malah jadinya kurang dramatis. Kita kembali lagi kenapa akhirnya bisa sampai tinggal di desa. Simpel, jawabannya adalah karena pekerjaan.

Semua ini bermula saat saya masih menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saat sedang sibuk untuk menyelesaikan tugas akhir, muncul sebuah kesempatan untuk melakukan wawancara dengan perusahaan Jepang. Walau perusahaan ini bukan merupakan perusahaan yang besar, namun perusahaan ini menawarkan pengalaman bekerja langsung di Jepang dengan gaji yang cukup bisa diterima. Alhasil, dengan banyak alasan dan pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba mengikuti wawancara tersebut.

Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, banyak tahapan yang harus dilewati sebelum kita bisa menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Wawancara di Indonesia, wawancara di Osaka (untuk informasi saja, kantor pusat perusahaan ini terletak di kota Osaka sehingga pada wawancara final saya harus pergi ke Osaka agar dapat bertemu dengan para pemimpinnya) dan beberapa tes lainnya. Alhamdulillah, saya akhirnya diterima.

Satu hal yang saya juga baru sadar setelah diterima, perusahaan swasta di Jepang sama dengan BUMN di Indonesia. Karena perusahaan mempunyai banyak kantor dan pabrik yang tersebar di seluruh Jepang, maka terjadilah penempatan karyawan baru. Tentunya, teman-teman mungkin sudah bisa menebak apa yang saya ingin katakana. Betul, saya akhirnya ditempatkan di kantor cabang yang terletak di salah satu desa.

Itulah cerita saya akhirnya tinggal di desa Jepang untuk pertama kalinya dalam hidup saya.
Read More

Thursday, August 8, 2019

JBL GO Speaker - sudah turun harga!

JBL GO Speaker - sudah turun harga!
oleh: Muabeyond | Editor: - 


-
Assalamua'laikum sob, kembali lagi di unboxing&/review oleh Muabeyond.
kali ini saya kembali ke Indonesia untuk liburan.
Walau akhirnya harus menghabiskan jatah cuti selama 1 tahun, tapi tetap perjalanan ini sangat saya nantikan.

Eits, kayaknya itu beda ceritanya.

Kembali lagi. Setelah kembali ke Indonesia, saya akhirnya mulai kembali belanja online karena barang-barang di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Jepang. Nah salah satu nya adalah Speaker mungil dari JBL, JBL Go First Generation. 




Saya sebenarnya sudah sangat lama menginginkan speaker ini, karena bagi saya, JBL merupakan salah satu speaker dengan hasil keluaran suara yang indah banget. Tapi sayang, saat pertama meluncur beberapa tahun lalu, harganya sangat-sangat mahal untuk saya yang masih seorang mahasiswa tanpa pemasukan.

Nah sekarang, di Lazada harganya tinggal 269.000 Rupiah dan garansi 1 tahun. Memang sih, sudah ada generasi terbarunya. Namun, karena generasi terbarunya masih mahal, saya akhirnya tetap memutuskan membeli yang generasi 1 saja.

Nah, ketika barangnya diterima, speaker JBL Go ini berada didalam kotak plastik bening dengan ornamen hitam di bagian bawahnya. Warnanya variatif banget, banyak pilihannya. Saya sendiri memilih yang warna biru karena saya suka dengan warnanya.

Didalam paketnya,hanya terdapat unit speaker, buku panduan dan sebuah kabel micro usb. Satu hal yang sadar, yaitu warna kabel yang didapat sangat kontras dengan warna speakernya. Saya sendiri mendapatkan kabel micro-USB berwarna orange.

Di speakernya, terdapat 5 tombol yang berada di bagian atas speaker, 1 led notifikasi di bagian depan speaker, sebuah lubang 3.5 mm jack audio dan sebuah port micro usb untuk mengisi ulang daya speaker. JBL sendiri menyatakan bahwa JBL Go ini akan bertahan selama 5 jam dipakai terus menerus untuk mendengarkan musik. Saya sendiri belum pernah coba menggunakan sampai 5 jam secara terus menerus, namun sampai saat ini saya tidak tidak mempunyai komplain terhadap daya.




Untuk menghidupkan speakernya sangat mudah. Di sisi paling kiri speaker, terdapat logo power yang cukup ditekan sekali untuk menghidupkan dan ditekan agak lama untuk mematikan. Setelah hidup, maka LED berwarna biru akan menyala kelap-kelip yang menandakan bahwa speaker telah aktif. 

Ada 2 cara untuk menyambungkan perangkat yang kita punya dengan speaker, yaitu menggunakan 3.5 mm jack audio atau bluetooth. Namun, nilai jual dari speaker ini adalah fitur bluetooth yang sudah built-in. Untuk menggunakannya pun sangat mudah, kita hanya perlu menekan tombol yang berlogo bluetooth kemudian bluetooth dari speaker akan menyala. Sangat simpel bukan?

Untuk kualitas suara, saya tidak ada kritik apapun. Masih oke banget walaupun ini sudah merupakan produk beberapa tahun yang lalu. Suara nya masih nyaring dan keras jika digunakan didalam ruangan. Jika diluar ruangan? Ya, masih kedengaran namun tidak sebaik apabila berada di dalam ruangan.

Kesimpulan nya? Seperti namanya, JBL Go ini memang punya desain yang mini sehingga mudah untuk dibawa-bawa. Dengan ukuran nya yang kecil dan tahan lama, speaker satu ini masih layak untuk kamu beli ditahun 2019. 

Namun, tentu saja. Desain yang jadul, masih menggunakan port micro-sd dan harga yang masih diatas 200 ribu menurut saya pribadi bisa menjadi pertimbangan untuk tidak membeli produk ini. 

Oke, kayaknya segitu aja dulu kali ya buat review dari JBL Go First Generation ini. Jangan lupa untuk baca artikel lainnya di website Muabeyond.com atau tonton video nya juga di kanal youtube Muabeyond Official.

Sekian dari Muabeyond, saya pamit.

Jaa Mata~

Read More

Wednesday, July 17, 2019

Kenapa Ministop Jepang Membuat Harga Onigiri Menjadi 100 Yen?

Kenapa Ministop Jepang Membuat Harga Onigiri Menjadi 100 Yen?
Benkyou Episode 1
Oleh: Muabeyond | Editor: -

-



Kenapa ya kira-kira, Ministop membuat harga onigiri-nya menjadi 100 Yen ?

Kalau ada yang belum tahu, Ministop merupakan salah satu brand convenience store atau kombini yang terkenal di Jepang. Oleh karena itu, sama seperti kombini lainnya, Ministop juga menjual salah satu makanan khas Jepang, yaitu: Onigiri.

Namun, beberapa minggu ini, situasinya sedikit berbeda. Harga onigiri yang biasanya bisa mencapai 135 Yen tanpa pajak, kini semuanya bisa dibeli dengan hanya 108 Yen setelah pajak.

Tapi, ada 2 pertanyaan yang muncul. Kenapa sih Ministop melakukan hal tersebut? 
Terus, apa Ministop tidak akan rugi?



Ternyata, mengubah harga onigiri menjadi 100 Yen tanpa pajak adalah strategi pemasaran yang dilakukan oleh brand kombini satu ini untuk menggaet pelanggan datang ke gerai mereka.


Di Jepang, Onigiri merupakan salah satu makanan yang paling banyak dibeli dari convenience store atau kombini. Dengan memanfaatkan kepopuleran dari onigiri ini, Ministop berharap akan banyak pelanggan yang akan datang belanja ke gerai-gerai Ministop karena murahnya harga onigiri tersebut. Pihak Ministop juga berharap, para pelanggan yang datang untuk membeli onigiri juga ikut membeli barang-barang lain yang dijual di Ministop.

Agar semakin meyakinkan, pihak Ministop juga menyatakan bahwa mereka tidak sedikitpun mengubah komposisi dan resep dari onigiri yang kini dijual di harga 100 Yen (Red: 14000 Rupiah). Memang, komitmen ini berakibat cukup besar yang menyebabkan kecilnya margin keuntungan dari penjualan onigiri. Untuk tetap bertahan, Ministop juga melakukan strategi lainnya, yaitu mengurangi jenis rasa onigiri yang dijual. 

Lantas, apakah menurut kamu strategi ini akan berhasil?

Kalau suatu saat Indomaret dan Alfamart melakukan strategi yang sama di Indonesia, kira-kira akan berhasil juga tidak ya?

Sekian dari artikel kali ini, kita jumpa di cerita-cerita berikutnya.

Kalau teman-teman suka dengan cerita-cerita dari blog Muabeyond.com, Jangan lupa untuk subscribe blog ini disini. Kunjungi juga channel youtube Muabeyond untuk konten-konten menarik lainnya. 

Read More

Tuesday, June 18, 2019

Bangga dan Kecewa disaat Bersamaan: KRL Jabodetabek

Bangga dan Kecewa disaat Bersamaan: KRL Jabodetabek
Sebuah Opini

Iken Episode 1
Oleh: Muabeyond | Editor: -
-

KRL Jabodetabek merupakan salah satu transportasi publik terpopuler di wilayah Jabodetabek. Namun, KRL Jabodetabek tersebut tidak selalu indah seperti yang terlihat saat ini.




Sekitar 15 tahun yang lalu, KRL Jabodetabek merupakan salah satu transportasi publik paling mematikan di Indonesia. Bagaimana tidak, jumlah kereta yang terbatas, penumpang yang berlebihan, sistem kereta yang jauh dari kata baik, bahkan penumpang bisa duduk diatas atap kereta membuat transportasi ini menjadi salah satu transportasi publik paling buruk di Indonesia. Memang harganya yang cukup bersahabat dengan kantong para penduduk di Indonesia lah yang membuat para penumpang tidak terlalu mempedulikan hal-hal buruk tersebut.

Namun, tim KRL Jabodetabek benar-benar dapat diacungi seluruh ibu jari yang kita punya. dalam kurun beberapa tahun setelahnya, KRL jabodetabek akhirnya berubah 180 derajat menjadi salah satu transportasi publik terbaik di Indonesia. Tidak hanya itu, KRL Jabodetabek juga bisa bersaing dengan beberapa sistem transportasi publik di negara-negara tetangga. Jika saya boleh jujur, saya merupakan penggemar berbagai jenis mode transportasi kereta. Oleh karena itu, saya sangat senang dan bangga dengan perubahan dari KRL yang ada di Indonesia.


Namun, dibalik rasa bangga tersebut, tidak bisa dipungkuri bahwa terselip beberapa kecewaan saya kepada KRL Jabodetabek terhadap keputusan yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Benar, kekecewaan ini terpengaruh oleh pengalaman saya saat mencicipi teknologi kereta di negara tetangga jauh. Namun, saya sangat yakin jika KRL Jabodetabek seharusnya bisa menerapkan hal-hal tersebut. Inilah beberapa kekecewaan saya terhadap keputusan KRL Jabodetabek yang menurut saya pribadi tidak dipikirkan secara matang dalam proses penerapannya.

1. Tidak menggunakan teknologi contactless RFID pada kartu elektronik KRL

Ya, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa KRL Jabodetabek mengganti sistem tiket biasa dengan menggunakan sistem kartu elektronik (uang elektronik) berbasis RFID. Hal ini merupakan salah satu yang sangat senangi karena membuat sistem gerbang untuk KRL dapat terkontrol lebih mudah. Namun, sayangnya teknologi yang digunakan masih kartu RFID biasa.

Oke, mungkin ada yang bertanya apa itu RFID? nah penjelasan detailnya mungkin akan saya bahas di artikel lainnya karena akan masuk ke ranah teknis. Namun, intinya, RFID adalah teknologi yang dipakai pada kartu elektronik atau uang elektronik yang saat ini dipakai dibanyak tempat di dunia. Tentunya salah satunya adalah Kartu multi trip KRL Jabodetabek ataupun kartu uang elektronik lainnya.

Nah sayangnya RFID yang digunakan KRL masih RFID biasa sehingga untuk menggunakannya perlu menempelkan kartu dan reader sangat dekat. Padahal, Contactless RFID di sisi lain dapat digunakan tanpa harus bersentuhan langsung antara kartu dengan reader. Teknologi contactoless RFID ini sudah digunakan di beberapa negara seperti sistem gerbang pada Japan Railway atau Osaka Metro.

"Tapi, bukannya kalau lebih canggih harganya pasti lebih mahal? Kita kan harus meminimalisir biaya yang digunakan?"

Benar, hal itu benar banget. Teknologi yang lebih baik berimbas pada naiknya biaya yang harus diinvestasikan. Kalau kita bandingkan saja, kartu (uang) elektronik di Indonesia rata-rata mempunyai kisaran harga 25 ribu rupiah dan tidak bisa di refund sedangkan suica milik JR-East jepang mempunyai kisaran harga 60 ribu rupiah dan refundable dengan syarat. Belum lagi kalau kita menghitung teknologi yang digunakan pada reader-nya.

Namun, keunggulan pada sistem contactless RFID akan sangat membantu para pengguna KRL dan petugas KRL. Kenapa? Teknologi contactless RFID mempunyai waktu pembacaan yang lebih cepat dari pada RFID biasa dan tidak membutuhkan kontak langsung antara kartu dan readernya sehingga lebih mudah digunakan. Hal ini akan berakibat baik pada saat terdapat arus masuk dan keluar stasiun karena prosesnya menjadi lebih cepat.

Walau menurut banyak orang, fitur ini tidak terlalu dibutuhkan, namun saya tetap percaya jika KRL menggunakan teknologi ini akan membuat sistem kereta yang lebih baik.

2. Sistem pembelian kartu sekali jalan yang rumit

Salah satu fitur paling tidak efisien di KRL Jabodetabek adalah saat ingin melakukan perjalanan single trip. Kenapa? Karena memakan begitu banyak proses dibandingkan dengan proses multitrip.

Coba kita bandingkan. Jika menggunakan kereta dengan uang elektronik atau kartu multitrip maka yang harus dilakukan sebelum perjalanan hanyalah memastikan saldo perjalanan yang cukup. Namun, untuk perjalanan singletrip, maka yang harus disiapkan adalah pergi membeli tiket perjalanan singletrip sesuai dengan destinasi, melakukan perjalanan dan jangan lupa untuk mengembalikan kartu singletrip kepada petugas/mesin.

Jika dilihat sekilas memang tidak terlalu rumit, namun praktik didunia nyatanya ternyata mengembalikan kartu kepada petugas/mesin ternyata menghabiskan waktu yang cukup berarti. Apalagi pengguna KRL yang banyaknya luar biasa. Hal ini diperparah dengan kehidupan ibukota merupakan yang serba cepat.
Sudah seharusnya KRL menyediakan sistem lain yang lebih ramah untuk para pengguna single trip.

3. Penggunaan gerbang yang masih menggunakan rotasi besi

Salah satu keputusan yang paling saya tidak suka dari KRL Jabodetabek adalah gerbangnya yang menggunakan sistem rotasi besi. Bukan tanpa alasan, namun gerbang rotasi besi benar-benar jauh dari kata efisien.

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa KRL menjadi salah satu sistem transportasi yang paling populer dikalangan masyarakat. Hal ini mengakibatkan banyaknya kegiatan masyarakat yang mulai bergantung kepada KRL. Hal ini lah penyebab utama saya mengatakan gerbang rotasi besi tidak efisien.

Pertama, gerbang rotasi mesin mempunyai daya lingkup kecil. Hal ini mengakibatkan orang yang membawa koper atau barang bawaan lainnya akan sulit melewati gerbang tersebut.

"Paling itu kamu doang kali? Yang lain kayaknya tidak seperti itu deh"

Ya mungkin benar. Tapi pengalaman setiap bulan minimal 2 kali harus keluar masuk melalui gerbang rotasi besi membawa minimal 1 koper selama 2 tahun bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Bukan hanya sulit, namun juga memakan waktu.

4. Tidak adanya integrasi tiket kereta non-KRL dan KRL

Sayangnya, sistem yang dibuat oleh KRL dan KAI tidak terintegrasi dengan baik. Walau inovasi-inovasi yang baik telah diimplementasikan oleh KAI dan KRL (seperti self checkin ataupun gerbang menggunakan kartu), namun para pembuat keputusannya lupa untuk mengintegrasikan keseluruhan sistem ke sebuah sistem yang utuh.

Dampaknya? Tentu saja bahwa sistem otomatis ini akhirnya masih membutuhkan bantuan manual seperti saat penumpang kereta api jarak jauh yang tiba pada salah satu stasiun di Jabodetabek harus menunggu petugas untuk dapat membukakan pintu gerbang tersebut.

Bukankah ini menjadi sistem yang redundan?

5. Tidak terintegrasi transportasi publik lainnya

Hal ini merupakan salah satu potensi yang benar-benar kurang dimanfaatkan oleh KRL Jabodetabek. Pasalnya, pembangunan stasiun tidak mendukung hubungan langsung dari transportasi publik lainnya, seperti busway, metromini dan lain-lain.

Tidak dapat dipungkiri, orang-orang yang tidak terbiasa dengan daerah disekitar stasiun akan sangat kesulitan untuk beradaptasi dengan cepat dalam mencari transportasi publik lainnya setelah selesai menggunakan KRL.

Walau memang hal ini terlihat tidak terlalu penting, namun memberikan layanan terbaik kepada pelanggan merupakan salah satu cara transportasi publik dapat terus berinovasi menjadi lebih baik.

Ya, kira-kira begitulah 5 kekecewaan yang saya punya terhadap KRL Jabodetabek. Namun, terlepas dari 5 hal tersebut, saya pribadi sangat bangga dengan perubahan yang dilakukan oleh KRL Jabodetabek. Walau masih banyak kekurangan, namun selama KRL mau melakukan perbaikan dan mendengarkan permintaan konsumen, maka KRL Jabodetabek akan menjadi salah satu transportasi publik terbaik di Indonesia.
Sekian dari Muabeyond, pamit dahulu.

--


Teman-teman, kunjungi juga channel youtube Muabeyond dengan klik disini yang isinya juga tidak kalah menarik dengan apa yang ada di blog ini. Penting... Subscribe, Like and share juga ya :D
Terima kasih banyak atas supportnya =D


Read More

Thursday, March 28, 2019

Tantangan 9 Jam: Berkeliling Kota Kyoto di Jepang



9 Jam di Kota Kyoto, Bisa Apa?
#MuabeyondKyotoBlog (1)

-|-

Assalamua`laikum teman-teman. Kembali lagi di blog Muabeyond.
Kali ini Muabeyond pergi ke kota Kyoto untuk menemani paman Muabeyond berkeliling selama seharian penuh. Lalu, apa saja sih yang bisa dilakukan selama 9 jam di Kyoto ? Langsung aja!


Status: Belum diedit dan foto menyusul
Disclaimer: Dalam artikel ini, Muabeyond menjelaskan seluruh tempat yang dinikmati dengan memperlama waktu menikmati pengalaman tempat tersebut. Hal inilah yang membuat tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Namun, prinsip Muabeyond yang merasa sebuah tempat harus dinikmati secara perlahan tanpa buru-buru adalah absolut yang dapat memberikan sensasi pengalaman yang sebenarnya :D


-||-

Kota Kyoto merupakan salah satu destinasi paling populer di Jepang, terutama di musim semi. Tidak hanya menawarkan keindahan alam yang beraneka ragam, kota Kyoto juga menawarkan bangunan-bangunan bersejarah yang telah menjadi warisan dunia serta kesenian yang beraneka ragam serta wisata kuliner khas Kyoto yang tentunya sangat cantik dan lezat. Tidak heran kota ini disebut sebagai kota seni.

Memang,rasanya tidak cukup untuk menikmati kota Kyoto hanya dalam 1 hari. Ada banyak tempat dan hal-hal yang harus dicoba selama berada di kota ini. Namun, apabila kita hanya punya 9 jam di kota Kyoto, apa saja yang bisa teman-teman dilakukan ?

Oke, karena Muabeyond pergi saat musim semi dan masih menyisakan udara dingin serta angin yang kencang, Muabeyond memilih untuk keluar sekitar jam 10 pagi. Tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Fushimi Inari Taisha. Jarak dari hotel menuju stasiun Kyoto hanya 15 menit ditempuh dengan jalan kaki. Dari stasiun Kyoto, kita dapat menggunakan kereta JR lokal jalur nara yang hanya terpaut 2 stasiun. Peron yang digunakan adalah peron 8 - 10. Tapi, teman-teman jangan lupa untuk melihat jadwal dan tanda dari keretanya. Pastikan teman-teman naik kereta yang lokal agar dapat berhenti di stasiun Fushimi-inari.

Perjalanan dari stasiun Kyoto ke statiun Fushimi-inari hanya ditempuh dalam 8 menit dan Fushimi Inari Taisho terletak tepat berada di depan stasiun. Karena Muabeyond berangkat jam 10 pagi, sudah sangat banyak orang yang mengunjungi lokasi ini.

Yang paling menyenangkan dari tempat ini adalah smeua tempat bisa menjadi sebuah spot yang bagus untuk diambil gambarnya. Aspek peninggalan leluhur, aspek modern, aspek keramaian, aspek ketenangan serta seni dan budaya Jepang benar-benar bisa dirasakan dari area ini. Tidak heran tenpat ini menjadi salah satu rekomendasi untuk tempat yang harus dikunjungi saat mengunjungi kota Kyoto.  Muabeyond menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam berada di kawasan komplek fushimi-inari taisho untuk mendapatkan gambar-gambar yang baik, melewati tori merah yang terkenal, mengunjungi pasar jalanannya serta berbelanja beberapa souvenir.




Setelah selesai, Muabeyond kembali ke stasiun Kyoto. Di statiun Kyoto, Muabeyond melakukan pemburuan makanan. Terdapat banyak restoran yang berada di lantai 1 ataupun basement dari stasiun Kyoto. Mulai dari makanan asli jepang maupun makanan asing. Tidak hanya itu, jika teman-teman tidak punya waktu untuk menunggu di restoran, teman-teman juga dapat bisa mengunjungi beberapa toko yang khusus untuk membeli makanan siap saji (bento) yang tentunya sehat. Namun, tidak semua makanan nya halal dan teman-teman harus benar-benar mengecek jika teman-teman ingin makan di di sekitar stasiun Kyoto.

Jika teman-teman tidak berkenan dengan restoran yang ada di sekitar stasiun Kyoto, teman-teman bisa juga pergi ke salah satu restoran ramen halal, Ayam-ya Karasuma Kyoto. Untuk menuju tempat ini, teman-teman hanya perlu menggunakan kereta atau bus dan menempuh perjalanan sekitar 5- 10 menit tergantung jenis kendaraan yang teman-teman gunakan. Restoran ramen Halal Ayam-ya Karasuma Kyoto berada sedkit didalam kompleks yang diapit oleh beberapa toko dan perumahan. Namun, teman-teman bisa menemukannya dengan mudah karena banyak nya petunjuk disekitar lokasi restauran. Muabeyond menghabiskan waktu sekitar 1 jam lebih untuk makan dan beristirahat dari padatnya jadwal jalan-jalan ini.

Setelah, selesai makan, Muabeyond memeutuskan untuk mengunjungi salah satu pasar paling terkenal di Kyoto, Nishiki Market. Jarak dari restoran ke Nishiki Market, bisa ditempuh dengan jalan kaki walau membutuhkan waktu yang tidak cepat. Dengan jalan santai, Muabeyond berhasil mencapai nishiki market sekitar 20-30 menit sambil menikmati beberapa bangunan di kota Kyoto. Oh ya, ada gedung gaya eropa milik mitsui yang cukup menarik untuk dijadikan objek foto juga loh.

Nishiki market atau pasar Nishiki adalah sebuah pasar berbentuk lorong panjang yang berisi para pedagang-pedagang di Kyoto. Hal yang membuatnya unik adalah banyaknya jenis makanan yang bisa ditemui di pasar ini, seperti kepiting hidup, jajanan pasar Kyoto, buah-buahan sampai aksesoris yang bisa dijadikan oleh-oleh. Sebagai salah satu tempat turis paling terkenal di Kyoto, Nishiki market memang tidak pernah sepi bahkan hampir susah untuk bisa sekedar berjalan. Tetapi, pasar Nishiki sudah dirancang untuk menampung ribuan orang dalam satu waktu. Oleh karenba itu, walaupun berdesak-desakan, rasanya jauh berbeda dengan berada di pasar tradisional biasa. Muabeyond menghabiskan waktu kira-kira 1 jam untuk memanjakan mata dengan hal-hal unik di pasar ini.

Tanpa sadar, Muabeyond sudah hampir 5 jam penuh melakukan perjalanan di Kyoto. Karena hotel yang ditinggali dekat dengan stasiun Kyoto, Muabeyond memutuskan untuk kembali sejenak kehotel untuk membersihkan diri dan berisirahat sejenak. Kemudian, Muabeyond sedikit melihat hasil foto yang Muabeyond ambil (padahal mah ga ada bedanya mau dilihat atau ga hehe). Sekitar jam 5, Muabeyond keluar dari hotel dan menuju salah satu tempat paling terkenal di musim semi, The Path Of Philosophy. Namun ternyata, Muabeyond cukup bingung membaca peta dan bus yang harus digunakan serta perjalanan yang menampuh waktu 30 menit membuat Muabeyond mengurungkan niat dan akhirnya memilih menuju Gion District.

Kalau teman-teman tahu, Gion district merupakan Kyoto gaya lama yang sedikit sekali terinteverensi oleh Kyoto modern. Tema vintage gitu. Bahkan kalau teman-teman beruntung, teman-teman bisa bertemu orang-orang yang berperan dalam kabuki ataupun geisha. Nah uniknya, salah satu cara untuk menikmati tempat-tempat wisata di Kyoto adalah dengan memakai kimono. Makanya jangan heran kalau banyak banget orang-orang yang memakai kimono saat berkeliling Gion.

Oh ya, gion district hanya berjarak 15 menit menggunakan kereta dari stasiun Kyoto. Teman-teman harus berpindah kereta sekali dari JR kemudian menggunakan kintetsu. Tentu saja, rute perpindahannya juga mudah ditemukan sehingga tidak perlu takut untuk kehilangan arah. Muabeyond menghabiskan sekitar 1,5 jam untuk mengeksplor daerah Gion ini. Kombinasi lampu dimalam hari dan konstruksi yang memiliki nilai seni yang tinggi membuat gion menjadi salah satu destinasi yang pas untuk sekedar dikunjungi ataupun mengambil beberapa foto keren.

Akhirnya, setelah selesai menikmati Gion, Muabeyond kembali lagi ke stasiun Kyoto dan mencari makanan untuk makan malam. Walau pun sedikit kecewa karena tidak berhasil mengunjungi Tetsugaku-no-michi (The Path Of Philosophy) namun Muabeyond akhirnya berhasil mengunjungi beberapa icon di kota Kyoto. Satu lagi, ketika malam, tepat didepan stasiun Kyoto terdapat salah satu menara kebanggaan Kyoto, yaitu Kyoto Tower. Saat malam hari, terdapat cahaya yang bergerak menyelimuti menara ini sehingga bagus banget untuk diambil fotonya. Disitulah Muabeyond berhenti mengeksplor Kyoto. Untuk menghabiskan waktu, Muabeyond hanya berkeliling disekitaran stasiun Kyoto dan hotel saja untuk mencari suasana yang artistik.

-|||-

Bagaimana? Ternyata dengan 9 jam saja, banyak tempat yang bisa dikunjungi di Kyoto ya =D Kalau teman-teman tertarik untuk mengunjungi Kyoto, Muabeyond menyarankan pada saat bunga musim semi bermekaran, saat daun maple menjadi merah ataupun pada saat festival-festival di gelar di musim panas. Sekian blog kali ini, kita jumpa lagi di #MuabeyondDailyBlog selanjutnya.

Teman-teman, kunjungi juga channel youtube Muabeyond dengan klik disini yang isinya juga tidak kalah menarik dengan apa yang ada di blog ini. Penting... Subscribe, Like and share juga ya :D
Terima kasih banyak atas supportnya =D




Read More