Wednesday, March 6, 2019

Cerita Tidak Berfaedah (yang Katanya) Engineer: Prolog

Cerita Tidak Berfaedah (yang Katanya) Engineer
#Cerpen

-|-

Tiket? Cek. Paspor dan visa? Cek. Tas laptop? Cek. Koper? Cek. Baju pergi? Cek.

Oke, sudah semuanya.
Hari ini, Auma Dira Akbar atau biasa dipanggil dira membereskan barang-barang di rumah dengan gugup. Dira akan berpamitan dengan kedua orang tuanya dan adiknya. Ia akan pergi ke Jepang untuk bekerja sebagai seorang engineer.

Bukanlah sebuah keputusan yang mudah untuk kedua orang tua Dira untuk melepas anak pertamanya pergi merantau, ribuan kilometer dari rumah. Namun, orang tua Dira percaya, anaknya telah cukup dewasa untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Walaupun kedua orang tuanya setuju dengan pilihan Dira, Dira paham bahwa didalam hati kedua orang tuanya, mereka tidak ingin Dira pergi. Namun, nasi telah menjadi bubur, Dira sudah harus berangkat dan tidak ada yang bisa dilakukan lagi.

Hari ini, Dira akan pergi sendirian. Bukan untuk liburan ataupun belajar. Namun untuk bekerja sebagai enginner teknik elektro.

Tetapi, perginya Dira ke Jepang ini membuat dirinya sangat gugup. Dira sama sekali tidak menguasai bahasa jepang tingkat lanjutan. Bahasa Jepang yang ia bisa hanyalah selevel percakapan anak TK. Mungkin saja, apabila kemampuan Dira dibandingkan dengan anak TK di Jepang, Anak TK mungkin akan lebih menang.

Alasan Dira bisa diterima di perusahaan ini? Simpel saja, Dira dibantu oleh banyak orang untuk mempersiapkan seluruh tahap wawancara yang ia telah lalui. Tentu saja, Dira tidak langsung diterima. Ia harus melaksanakan beberapa wawancara tambahan dan menunggu beberapa saat sampai akhirnya ia diterima di perusahaan ini.

Dira tidak pernah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia diterima. Sampai hari keberangkatan tiba. Dira merasa tidak ingin meninggalkan orang tuanya dan keluar dari zona nyaman nya. Dira terlihat pucat dan seperti ingin menangis.


Namun, Dira berusaha untuk menyembunyikannya. Ekspresi dari kedua orang tuanya yang penuh harap serta keinginan mereka untuk Dira selalu mendapatkan yang terbaik dalam pilihannya membuat Dira merasa ia harus kuat.

Dira merasa, bukan saatnya lagi ia mempertanyakan apakah keputusan ini benar benar yang terbaik untuk dirinya.

"Bismillah, semoga ini jadi pilihan yang terbaik"

bisik Dira sambil menutup pintu kamarnya. ketika ia keluar rumah, ayah dan ibu nya memeluk Dira dengan hangat.

"Jaga diri baik-baik, nak. Jangan lupa pulang ya."

"Iya mama. Tapi, Kita masih dirumah ma. Kita juga belum berangkat ke Bandara, ma."

"Tahu, Mama mengingatkan saja. Bisa aja kamu baru berapa langkah udah lupa sama rumah."

Mama Dira mencoba menutupi kesedihannya sambil membantu Dira membereskan barangnya. Setelah selesai, Dira dan kedua orang tuanya berangkat ke bandara Soekarno Hatta. Itulah hari terakhir Dira berada di Indonesia pada tahun itu.


EmoticonEmoticon