Wednesday, November 27, 2019

Harusnya pos Indonesia sudah menjadi raja di Indonesia

Harusnya pos Indonesia sudah menjadi raja di Indonesia


Assalamua'laikum sob, kembali lagi di blog ini.

Walaupun mungkin sudah basi karena isunya tidak viral lagi dimana pos Indonesia dikabarkan bangkut (Red: Pos Indonesia diisukan bangkut), namun selama beberapa bulan ini, hal tersebut menjadi salah satu dalam pikiran saya. Bagaimana bisa salah satu BUMN tertua di Indonesia dengan target pasar dan konsumen yan terus bertumbuh malah menjadi salah satu perusahaan yang dikabarkan bangkrut.

Bagaimana tidak ya, jika kita bandingkan apple to apple dengan perusahaan yang sama asal jepang, Japan Post, kondisi nya bagaikan langit dan bumi. Faktanya saja, sampai tahun 2019 ini, Japan Post adalah salah satu perusahaan Jepang yang paling besar duduk di peringkat 6 jepang dan 66 dunia dengan valuasi perusahaan sekitar 44,5 Miliar USD.

Bisa saja ada yang mengatakan: "Tapi itu kan di Jepang, mereka kan negara maju. Perbandingannya tidak apple to apple nih" atau "Masa membandingkan perusahaan di negara maju dan negara berkembang, ya tidak masuk akal".

Tentu saja, saya tidak membandingkan Japan Post dan Pos Indonesia secara langsung. Saya juga tidak mempunyai ekspektasi bahwa Pos Indonesia akan berada di jajaran 100 perusahaan dengan valuasi tertinggi di dunia seperti Japan Post. Namun, fokus saya adalah pada keadaan perusahaan pos Indonesia yang punya target konsumen 2 kali lipat dari Japan Post namun malah diisukan bangkrut sampai harus berhutang untuk menggaji karyawan.

Tidak. Ini tidak seharusnya terjadi. Pos Indonesia harusnya menjadi salah satu BUMN terkaya di Indonesia. Namun, ada asap pasti ada api. Selalu ada alasan kenapa akhirnya Pos Indonesia berada di posisi saat ini. Setelah saya menelusuri sendiri, saya cukup berani mengatakan ada 2 alasan kenapa pos Indonesia berada di kondisi krisis saat ini.
disclaimer : semua yang tertulis di tulisan ini adalah murni pemikiran dan pengalaman pribadi sehingga sangat mungkin untuk terjadi kesalahan. Jika teman-teman menemukan kesalahan ataupun perbedaan pendapat, silahkan berdiskusi dengan sopan dan kita akan menemukan jalan tengahnya.

1. Terlambat berinovasi dan tidak berhasil mendefinisikan system

Sebagai perusahaan tertua yang bergerak di bidang logistik dan pos, dapat dikatakan bahwa pos Indonesia terlambat berinovasi dan gagal membuat sistem pos yang kokoh untuk menjadi pondasi dari Pos Indonesia sendiri.

Sebagai contoh, dalam urusan logistik, inovasi pengiriman sehari sampai lebih dulu diperkenalkan oleh perusahaan saingan dengan sistem yang telah mereka uji. Tepat saja, butuh waktu oleh Pos Indonesia untuk mengeluarkan produk yang sama dengan perusahaan rival.

Kemudian, dalam urusan sistem pos, masuknya era digital yang begitu cepat membuat pos Indonesia bingung. Orang-orang mulai banyak beralih menggunakan surat elektronik dan membuat sistem pos surat tidak sepopuler dahulu. Padahal dalam kondisi seperti ini, Pos Indonesia harusnya memeras ide sampai tetes terakhir untuk mendapatkan cara agar sistem pos tetap eksis dan tidak tergusur perkembangan teknologi.

Tentunya, kedua hal tersebut dari banyak hal lainnya.

2. Kurangnya peningkatan layanan informasi

Pada faktanya, di era digital ini, orang-orang akan lebih mudah untuk menemukan seluruh informasi di Internet dibandingkan harus datang secara langsung ke kantor cabang. Sayangnya, kesempatan ini tidak dimanfaatkan baik oleh pos Indonesia.

Sebagai contoh saja, untuk mendapatkan informasi tentang pengiriman barang ke luar negeri. Hal-hal terkait aturan, besaran spesifik, larangan hingga biaya yang diperlukan tidak mudah untuk didapatkan. Walaupun memang tidak fatal, namun faktor informasi kadang menjadi hal-hal yang sangat dipertimbangkan oleh konsumen saat memilih jasa. Hal ini dikarenakan saat ini informasi merupakan sebuah hal yang harusnya sangat mudah untuk didapatkan.

3. Kurangnya peningkatan layanan konsumen

Dan terakhir adalah layanan konsumen. Jika kita datang ke kantor cabang pos Indonesia terdekat, proses yang harus dilalui bisa terbilang cukup merepotkan. Tidak adanya jalur pemahaman yang jelas, kurangnya informasi-informasi layanan dan seluruh informasi layanan hanya dibebankan kepada pegawai dari Pos Indonesia.

Walaupun tidak di semua kantor cabang seperti ini, namun mayoritas dari kantor cabangnya masih perlu banyak peningkatan di sektor layanan konsumen.

Ya kira-kira itu adalah alasannya. Mungkin di artikel selanjutnya, saya akan coba bahas tentang bagaimana Japan Post bisa menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Jepang.

Sampai jumpa~


EmoticonEmoticon