Sunday, June 7, 2020

E-KTP DAN POTENSINYA : SEBUAH IDE GILA

E-KTP DAN POTENSINYA : SEBUAH IDE GILA

-



Assalamua’laikum Sob! Semoga sehat selalu ya.

Masih menyambung dengan pembahasan tentang kartu tanda penduduk di tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin membahas tentang E-KTP di Indonesia. Mungkin semua sudah tahu tentang apa itu E-KTP. Namun, untuk orang yang belum paham, E-KTP adalah kartu tanda penduduk elektronik. Tentu saja, kartu tanda penduduk ini harusnya dimiliki oleh semua warga negara Indonesia apabila sudah berumur 17 tahun.

Tapi jika sobat sekalian mengikuti cerita dan drama dari E-KTP, sobat semua pasti tahu bahwa banyak sekali masalah yang muncul karena E-KTP ini dan membuat potensi sesungguhnya dari E-KTP ini tidak pernah tereksplor.

Lalu? Bagaimana sih pendapat saya dengan E-KTP ini ?

Bertahun-tahun setelah diluncurkan, pada penerapannya E-KTP saat ini hanya menjadi kartu biasa yang tidak ada bedanya dengan kartu tanda penduduk lama berbentuk kertas. Bahkan, karena E-KTP memerlukan chip RFID untuk pembuatannya, saat ini malah memunculkan masalah baru yaitu tidak adanya pasokan logistik untuk pembuatan E-KTP bagi penduduk yang baru bisa membuat KTP.

Sebagai seorang lulusan jurusan electrical engineering (walau saya tidak punya kemampuan yang mumpuni), sebenarnya E-KTP dapat menjadi kartu ampuh untuk menyimpan banyak data penting yang essensial bagi masyarakat Indonesia. Kali ini saya akan menyebutkan 3 hal yang harusnya bisa terwujud dengan adanya E-KTP.



1.  Penggunaan big data E-KTP untuk proses verifikasi
Seperti yang sudah diketahui khalayak ramai, fungsi utama E-KTP tentu saja adalah untuk melakukan verifikasi data kependudukan. Menggunakan KTP versi lama, maka verifikasi hanya secara manual. Bahkan, kadang kala bisa ditemukan beberapa kasus dimana KTP tersebut ternyata KTP palsu yang tidak resmi di keluarkan oleh pemerintah.

Kalau E-KTP ? Disini magic sesungguhnya.

E-KTP mampunyai chip RFID didalam kartunya yang berisi informasi tentang pemilik kartu. Hal yang paling menarik adalah RFID ini mempunyai ID yang unik sehingga tidak akan ada dua kartu yang mempunyai ID yang sama. Bahkan, seharusnya akan sangat sulit untuk dapat memalsukan E-KTP karena data yang ada telah tersimpan di database sehingga data yang mencurigakan pasti akan dengan mudah terdeteksi. Tidak hanya itu, karena data ini bersifat digital maka data ini harusnya bisa dengan mudah di akses oleh banyak pihak tentunya dengan standar protokol keamanan yang ketat.

Lalu, bagaimana seharusnya E-KTP dipakai? Saat melakukan seluruh pendaftaran yang memerlukan verifikasi dengan KTP, harusnya pihak yang melakukan verifikasi mempunyai akses infrastruktur dan data tentang E-KTP. Tinggal memindai E-KTP maka harusnya seluruh data seseorang akan tersedia. Sayangnya, konsep ini tidak diberlakukan bahkan untuk banyak instansi milik negara seperti Bank milik negara ataupun kantor administrasi kependudukan.

Pada akhir tahun 2019 saja, ketika ide tulisan ini muncul, satu-satunya lembaga yang saya tahu memanfaatkan E-KTP untuk melakukan verifikasi adalah salah satu bank swasta terbesar di Indonesia yang ada central dan asia di namanya. 

Jika E-KTP hanya digunakan seperti KTP versi lama, apa gunanya ada E-KTP?

2.  Akses administrasi yang berhubungan dengan kependudukan
Salah satu potensi yang bisa diekspolitasi dengan E-KTP adalah merekam tentang kondisi kependudukan dari seseorang. Lalu, maksudnya bagaimana ?

Pertama, dengan adanya E-KTP harusnya data kependudukan dengan cepat dapat diubah. Misal, alamat, agama dan status pernikahan adalah contoh-contoh data yang harusnya tidak dicetak permanen di E-KTP dan apabila terjadi perubahan maka akan dengan mudah diubah pada databese maupun E-KTP. Bahasan tentang desain E-KTP pun pernah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya.

Kedua, status dari penduduk tersebut. 22 Tahun hidup di Indonesia, saya banyak mengenal tentang surat rekomendasi dari RT/RW atau sejenisnya perihal tentang status ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Namun, sedikit orang yang tahu bahwa kadang kala tidak semua orang mempunyai waktu yang banyak untuk setiap saat menemui kepala RT atau kepala RW untuk mengkonfirmasi keaadan kehidupannya. 

Seperti yang sudah saya jabarkan juga, bahwa E-KTP bisa menyimpan banyak data. Kenapa tidak menjadikan E-KTP sebagai bukti bahwa seseorang punya surat rekomendasi dari RT/RW nya dengan cara memasukkan data baru kedalam E-KTP tersebut? Sehingga, apabila E-KTP ini di pindai untuk diambil datanya maka status ataupun surat rekomendasi tersebut sudah ada dan dapat dengan mudah diakses oleh mereka yang membutuhkan.

3.  Memberikan akses data kependudukan yang cepat
Terakhir, sejujurnya ini mirip dengan alasan nomor 2. Namun, data yang saya maksud kali ini adalah tentang kartu keluarga. Sadar atau tidak sadar, kartu keluarga adalah hal yang juga cukup penting dalam proses verifikasi.

Namun, membawa salinan dari kartu keluarga setiap saat kadang menjadi hal yang merepotkan bagi sebagian orang. Apalagi, ukuran dari kartu keluarga tidaklah kecil. Dengan menggunakan E-KTP, maka data dari kartu keluarga dapat dimasukkan kedalam kartu.

Dengan menggunakan infrastuktur yang tepat, maka dengan hanya memindai E-KTP kita dapat mencetak salinan kartu keluarga kapanpun kita mau tanpa harus membawa kartu keluarga yang asli ataupun salinannya setiap saat.

Tentu saja, 3 alasan diatas hanyalah konsep penerapan yang ada didalam analisis saya. Bisa saya, saya belum tahu bahwa masih banyak kemungkinan potensi yang dimiliki oleh E-KTP itu sendiri. Namun, seperti judul dari tulisan ini yaitu IDE GILA yang mana merupakan ide yang sangat sulit untuk diwujudkan, saat ini E-KTP akan sangat sulit untuk dikeluarkan potensi sebenarnya. Dan alasan utamanya bukanlah karena kasus korupsi atau drama pada saat pengadaannya.

Bagi saya, E-KTP merupakan sebuah inovasi yang revolusioner dibidang kependudukan. Namun malang tak bisa dielak, pengadaan E-KTP menurut saya pribadi terlalu cepat dan tidak memikirkan infrastruktur yang dapat menyokong fungsionalitas dari E-KTP itu sendiri. Banyak pihak yang memanfaatkan pengadaan E-KTP hanya untuk kepuasannya pribadi padahal pengadaan E-KTP ini dapat berpotensi untuk menjadi ladang pahala jariyah karena E-KTP harusnya dapat memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat Indonesia.

Apakah E-KTP bisa menjadi kartu yang spesial apabila drama korupsi tidak pernah ada? Bukan saya yang bisa menjawab nya.

Sekian dari saya, sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya.
Read More

Friday, June 5, 2020

BELAJAR DARI RESIDENCE CARD JEPANG : SEBUAH INSPIRASI DESAIN

BELAJAR DARI RESIDENCE CARD JEPANG : SEBUAH INSPIRASI DESAIN

-



Assalamu’laikum sob! Semoga sehat selalu ya.

Kalau berbicara tentang desain produk, sudah tidak bisa dielakkan bahwa Jepang bisa dijadikan referensi utama. Serius! Kalau teman-teman pergi ke Jepang atau pun membeli barang-barang buatan Jepang, bisa dilihat bahwa mayoritas desain produk di Jepang sangat memperhatikan detail dan fungsionalitas. Hal ini juga yang membuat saya ingin menulis tentang belajar desain di tulisan ini walaupun saya pribadi tidak mempunyai latar belakang desain. Tanpa menunggu lebih lama, kita mulai masuk ke pembahasan utama : Belajar dari kartu tanda penduduk asing.

Bagi warga negara Jepang, sejatinya mereka tidak mempunyai kartu tanda penduduk. Oleh karena itu, biasanya surat izin mengemudi (unten menkyoshou/運転免許証) atau passport lah yang digunakan sebagai sarana verifikasi. Kadang kala juga dapat menggunakan Resident Card (juuminhyou/住民票) yang bentuknya mirip dengan kartu keluarga. 

Tapi, hal yang berbeda dengan warga negara asing. Setiap warga negara asing yang tinggal lebih dari 3 bulan di Jepang, akan mendapat kartu tanda penduduk (zairyuu kaado/在留カード). Tentu saja, mirip dengan kartu tanda penduduk di Indonesia, Residence card untuk negara asing mengandung beberapa informasi seperti, nama, jenis kelamin, kewarganegaraan, Jenis visa dan informasi lainnya. 

Ada satu hal yang sangat menarik untuk dibahas, yaitu kolom informasi untuk alamat rumah pada Residence card. Informasi seperti nama, jenis kelamin, tanggal lahir dan informasi lainnya merupakan informasi yang sangat kecil kemungkinan diubah. Oleh karena itu, informasi ini dicetak permanen pada Residence card

Namun, informasi alamat rumah tidak dicetak permanen dan mempunyai kolom pribadi untuk diisi. Hal ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

 


Tentu saja hal ini menjadi menarik karena memang alamat rumah adalah hal yang bisa berubah secara dinamis. Apalagi sistem surat di Jepang yang cukup modern dan retro secara bersamaan membuat hal ini menjadi sangat penting. Untuk hal ini kita bahas di tulisan lainnya.

Namun, hal ini sangat baik apabila juga diterapkan di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, jika dibandingkan dengan kartu tanda penduduk di Indonesia, semua informasi yang tertera dicetak secara permanen. Karena proses pembuatan kartu tanda penduduk yang cukup rumit apabila terdapat informasi yang berubah (contoh: alamat), banyak orang yang akhirnya tidak mengubah informasi yang ada pada kartu tanda penduduk. 

Padahal, apabila kita pindah ke tempat baru, katakan lah pindah untuk belajar di universitas, bekerja, dan atau kegiatan lainnya yang membutuhkan waktu lama, maka sebenarnya alamat tempat tinggal pun bisa dikatakan berubah. 

Memang, jika dilihat secara sekilas, tidak ada perbedaan yang kontras jika membandingkan kartu tanda penduduk Indonesia yang ada saat ini dan konsep dari residence card nya penduduk asing di Jepang. Walau sebenarnya hal ini pun dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran akan pentingnya informasi kependudukan yang ada di masyarakat saat ini. Topik ini juga akan saya bahas di tulisan yang lain.

Hal detail seperti inilah yang kurang diperhatikan pada saat mendesain kartu tanda penduduk di Indonesia. Bayangkan, jika alamat pada kartu tanda penduduk dapat diubah sesuai dengan tempat menetap, maka penggunaan kartu tanda penduduk sebagai sarana konfirmasi akan lebih valid dibandingkan dengan konsep yang ada saat ini. Hal ini lah yang membuat saya cukup tertarik untuk membahas inspirasi desain dari residence card untuk warga negara asing di Jepang.

Sekian dari saya, sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Read More

Wednesday, June 3, 2020

GARIS WAKTU

GARIS WAKTU

-


Setelah sekian lama tidak menulis dan rasanya pengen nulis lagi. Ada banyak hal yang ada dalam pikiran tapi entah kenapa rasanya malas banget untuk nulis. Akhirnya ku memutuskan, untuk tahun 2020 ini, tulisan pertama nya adalah tentang curhat.

Tahun 2019 merupakan tahun yang unik dari segi emosi buatku. Banyak konflik batin dan hal-hal yang memebuatku berpikir ulang, "Hidupku sekarang ini buat apa sih?"

Coba ya kita uraikan. Ketemu teman baru di perusahaan, pisah sama teman baru diperusahaan, Puasa jauh dari orang tua, ngerayain lebaran jauh dari rumah, ditolak pas ngajak nikah, pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah setahun, wawancara kerja lewat skype, gagal daftar S2, para sahabat banyak yang menikah, tidak bisa hadir nikahan abang sepupu dan masih banyak cerita-cerita yang membuat emosi ku naik turun.

Tapi, dari semua hal itu, realita kehidupan setelah kuliah lah yang membuatku banyak berpikir tentang apa tujuan yang ingin kujalani dalam kehidupanku. Kenapa?

Karena ternyata banyak hal yang berubah. Sahabat dan teman baik yang biasanya bisa kutemui tiap hari, kin mungkin hanya bisa kutemui 1 sampai 2 bulan sekali ketika kami memutuskan untuk kumpul. Bahkan ribut dan sibuknya kota yang aku pikir tidak pernah akan kurindukan, sekarang pelan-pelan mulai muncul dalam mimpi di malam hari.

Awalnya hidup sendiri jauh dari keramaian, menyendiri adalah hal yang menyenangkan buatku. Bayangkan saja? aku tidak harus bersoasialisasi dan menghadapi ekespektasi orang-orang yang ditujukan padaku. Tapi ternyata aku salah, sentuhan batin dengan bertukar sapa atau percakapan dengan orang lain ternyata sangat penting.

Semua memang baru sadar ketika nikmat itu telah hilang diambil.

Ditambah lagi, ketika aku mengetahui kabar-kabar sahabat dan teman-teman dekatku, mereka seperti sedang hidup dalam impian dan rencana mereka masing-masing. Menikah, lanjut studi S2, kerja di perusahaan impian, dan masih banyak lagi.

Don't get me wrong. Bukannya ku cemburu kepada apa yang mereka raih, aku hanya cemburu karena mereka seperti punya tujuan yang jelas dalam hidupnya sedangkan aku hanya mengikuti arus yang datang. Walaupun aku tidak tahu kemana arah arus ini akan membawaku. Laut? Kolam? atau kubangan lumpur?

Tapi satu yang aku rasakan, sepertinya aku merasa hampa karena aku pelan-pelan menjauh dari Allah. Aku banyak melakukan sesuatu menggunakan impuls tanpa menyerahkannya kepada Allah.
Sudah saat nya aku kembali, menyusun timeline hidup ku dari awal lagi. Menyesuaikan langkah dengan kemampuanku.

Bukankah yang terpenting aku harus bisa menjadi lebih baik dari diriku dimasa lalu?


Read More