Wednesday, June 3, 2020

GARIS WAKTU

GARIS WAKTU

-


Setelah sekian lama tidak menulis dan rasanya pengen nulis lagi. Ada banyak hal yang ada dalam pikiran tapi entah kenapa rasanya malas banget untuk nulis. Akhirnya ku memutuskan, untuk tahun 2020 ini, tulisan pertama nya adalah tentang curhat.

Tahun 2019 merupakan tahun yang unik dari segi emosi buatku. Banyak konflik batin dan hal-hal yang memebuatku berpikir ulang, "Hidupku sekarang ini buat apa sih?"

Coba ya kita uraikan. Ketemu teman baru di perusahaan, pisah sama teman baru diperusahaan, Puasa jauh dari orang tua, ngerayain lebaran jauh dari rumah, ditolak pas ngajak nikah, pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah setahun, wawancara kerja lewat skype, gagal daftar S2, para sahabat banyak yang menikah, tidak bisa hadir nikahan abang sepupu dan masih banyak cerita-cerita yang membuat emosi ku naik turun.

Tapi, dari semua hal itu, realita kehidupan setelah kuliah lah yang membuatku banyak berpikir tentang apa tujuan yang ingin kujalani dalam kehidupanku. Kenapa?

Karena ternyata banyak hal yang berubah. Sahabat dan teman baik yang biasanya bisa kutemui tiap hari, kin mungkin hanya bisa kutemui 1 sampai 2 bulan sekali ketika kami memutuskan untuk kumpul. Bahkan ribut dan sibuknya kota yang aku pikir tidak pernah akan kurindukan, sekarang pelan-pelan mulai muncul dalam mimpi di malam hari.

Awalnya hidup sendiri jauh dari keramaian, menyendiri adalah hal yang menyenangkan buatku. Bayangkan saja? aku tidak harus bersoasialisasi dan menghadapi ekespektasi orang-orang yang ditujukan padaku. Tapi ternyata aku salah, sentuhan batin dengan bertukar sapa atau percakapan dengan orang lain ternyata sangat penting.

Semua memang baru sadar ketika nikmat itu telah hilang diambil.

Ditambah lagi, ketika aku mengetahui kabar-kabar sahabat dan teman-teman dekatku, mereka seperti sedang hidup dalam impian dan rencana mereka masing-masing. Menikah, lanjut studi S2, kerja di perusahaan impian, dan masih banyak lagi.

Don't get me wrong. Bukannya ku cemburu kepada apa yang mereka raih, aku hanya cemburu karena mereka seperti punya tujuan yang jelas dalam hidupnya sedangkan aku hanya mengikuti arus yang datang. Walaupun aku tidak tahu kemana arah arus ini akan membawaku. Laut? Kolam? atau kubangan lumpur?

Tapi satu yang aku rasakan, sepertinya aku merasa hampa karena aku pelan-pelan menjauh dari Allah. Aku banyak melakukan sesuatu menggunakan impuls tanpa menyerahkannya kepada Allah.
Sudah saat nya aku kembali, menyusun timeline hidup ku dari awal lagi. Menyesuaikan langkah dengan kemampuanku.

Bukankah yang terpenting aku harus bisa menjadi lebih baik dari diriku dimasa lalu?



EmoticonEmoticon