Tuesday, June 18, 2019

Bangga dan Kecewa disaat Bersamaan: KRL Jabodetabek (IND)

Bangga dan Kecewa disaat Bersamaan: KRL Jabodetabek
Sebuah Opini

Iken Episode 1
Oleh: Muabeyond | Editor: -
-

KRL Jabodetabek merupakan salah satu transportasi publik terpopuler di wilayah Jabodetabek. Namun, KRL Jabodetabek tersebut tidak selalu indah seperti yang terlihat saat ini.



Sekitar 15 tahun yang lalu, KRL Jabodetabek merupakan salah satu transportasi publik paling mematikan di Indonesia. Bagaimana tidak, jumlah kereta yang terbatas, penumpang yang berlebihan, sistem kereta yang jauh dari kata baik, bahkan penumpang bisa duduk diatas atap kereta membuat transportasi ini menjadi salah satu transportasi publik paling buruk di Indonesia. Memang harganya yang cukup bersahabat dengan kantong para penduduk di Indonesia lah yang membuat para penumpang tidak terlalu mempedulikan hal-hal buruk tersebut.

Namun, tim KRL Jabodetabek benar-benar dapat diacungi seluruh ibu jari yang kita punya. dalam kurun beberapa tahun setelahnya, KRL jabodetabek akhirnya berubah 180 derajat menjadi salah satu transportasi publik terbaik di Indonesia. Tidak hanya itu, KRL Jabodetabek juga bisa bersaing dengan beberapa sistem transportasi publik di negara-negara tetangga. Jika saya boleh jujur, saya merupakan penggemar berbagai jenis mode transportasi kereta. Oleh karena itu, saya sangat senang dan bangga dengan perubahan dari KRL yang ada di Indonesia.


Namun, dibalik rasa bangga tersebut, tidak bisa dipungkuri bahwa terselip beberapa kecewaan saya kepada KRL Jabodetabek terhadap keputusan yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Benar, kekecewaan ini terpengaruh oleh pengalaman saya saat mencicipi teknologi kereta di negara tetangga jauh. Namun, saya sangat yakin jika KRL Jabodetabek seharusnya bisa menerapkan hal-hal tersebut. Inilah beberapa kekecewaan saya terhadap keputusan KRL Jabodetabek yang menurut saya pribadi tidak dipikirkan secara matang dalam proses penerapannya.

1. Tidak menggunakan teknologi contactless RFID pada kartu elektronik KRL

Ya, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa KRL Jabodetabek mengganti sistem tiket biasa dengan menggunakan sistem kartu elektronik (uang elektronik) berbasis RFID. Hal ini merupakan salah satu yang sangat senangi karena membuat sistem gerbang untuk KRL dapat terkontrol lebih mudah. Namun, sayangnya teknologi yang digunakan masih kartu RFID biasa.

Oke, mungkin ada yang bertanya apa itu RFID? nah penjelasan detailnya mungkin akan saya bahas di artikel lainnya karena akan masuk ke ranah teknis. Namun, intinya, RFID adalah teknologi yang dipakai pada kartu elektronik atau uang elektronik yang saat ini dipakai dibanyak tempat di dunia. Tentunya salah satunya adalah Kartu multi trip KRL Jabodetabek ataupun kartu uang elektronik lainnya.

Nah sayangnya RFID yang digunakan KRL masih RFID biasa sehingga untuk menggunakannya perlu menempelkan kartu dan reader sangat dekat. Padahal, Contactless RFID di sisi lain dapat digunakan tanpa harus bersentuhan langsung antara kartu dengan reader. Teknologi contactoless RFID ini sudah digunakan di beberapa negara seperti sistem gerbang pada Japan Railway atau Osaka Metro.

"Tapi, bukannya kalau lebih canggih harganya pasti lebih mahal? Kita kan harus meminimalisir biaya yang digunakan?"

Benar, hal itu benar banget. Teknologi yang lebih baik berimbas pada naiknya biaya yang harus diinvestasikan. Kalau kita bandingkan saja, kartu (uang) elektronik di Indonesia rata-rata mempunyai kisaran harga 25 ribu rupiah dan tidak bisa di refund sedangkan suica milik JR-East jepang mempunyai kisaran harga 60 ribu rupiah dan refundable dengan syarat. Belum lagi kalau kita menghitung teknologi yang digunakan pada reader-nya.

Namun, keunggulan pada sistem contactless RFID akan sangat membantu para pengguna KRL dan petugas KRL. Kenapa? Teknologi contactless RFID mempunyai waktu pembacaan yang lebih cepat dari pada RFID biasa dan tidak membutuhkan kontak langsung antara kartu dan readernya sehingga lebih mudah digunakan. Hal ini akan berakibat baik pada saat terdapat arus masuk dan keluar stasiun karena prosesnya menjadi lebih cepat.

Walau menurut banyak orang, fitur ini tidak terlalu dibutuhkan, namun saya tetap percaya jika KRL menggunakan teknologi ini akan membuat sistem kereta yang lebih baik.

2. Sistem pembelian kartu sekali jalan yang rumit

Salah satu fitur paling tidak efisien di KRL Jabodetabek adalah saat ingin melakukan perjalanan single trip. Kenapa? Karena memakan begitu banyak proses dibandingkan dengan proses multitrip.

Coba kita bandingkan. Jika menggunakan kereta dengan uang elektronik atau kartu multitrip maka yang harus dilakukan sebelum perjalanan hanyalah memastikan saldo perjalanan yang cukup. Namun, untuk perjalanan singletrip, maka yang harus disiapkan adalah pergi membeli tiket perjalanan singletrip sesuai dengan destinasi, melakukan perjalanan dan jangan lupa untuk mengembalikan kartu singletrip kepada petugas/mesin.

Jika dilihat sekilas memang tidak terlalu rumit, namun praktik didunia nyatanya ternyata mengembalikan kartu kepada petugas/mesin ternyata menghabiskan waktu yang cukup berarti. Apalagi pengguna KRL yang banyaknya luar biasa. Hal ini diperparah dengan kehidupan ibukota merupakan yang serba cepat.
Sudah seharusnya KRL menyediakan sistem lain yang lebih ramah untuk para pengguna single trip.

3. Penggunaan gerbang yang masih menggunakan rotasi besi

Salah satu keputusan yang paling saya tidak suka dari KRL Jabodetabek adalah gerbangnya yang menggunakan sistem rotasi besi. Bukan tanpa alasan, namun gerbang rotasi besi benar-benar jauh dari kata efisien.

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa KRL menjadi salah satu sistem transportasi yang paling populer dikalangan masyarakat. Hal ini mengakibatkan banyaknya kegiatan masyarakat yang mulai bergantung kepada KRL. Hal ini lah penyebab utama saya mengatakan gerbang rotasi besi tidak efisien.

Pertama, gerbang rotasi mesin mempunyai daya lingkup kecil. Hal ini mengakibatkan orang yang membawa koper atau barang bawaan lainnya akan sulit melewati gerbang tersebut.

"Paling itu kamu doang kali? Yang lain kayaknya tidak seperti itu deh"

Ya mungkin benar. Tapi pengalaman setiap bulan minimal 2 kali harus keluar masuk melalui gerbang rotasi besi membawa minimal 1 koper selama 2 tahun bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Bukan hanya sulit, namun juga memakan waktu.

4. Tidak adanya integrasi tiket kereta non-KRL dan KRL

Sayangnya, sistem yang dibuat oleh KRL dan KAI tidak terintegrasi dengan baik. Walau inovasi-inovasi yang baik telah diimplementasikan oleh KAI dan KRL (seperti self checkin ataupun gerbang menggunakan kartu), namun para pembuat keputusannya lupa untuk mengintegrasikan keseluruhan sistem ke sebuah sistem yang utuh.

Dampaknya? Tentu saja bahwa sistem otomatis ini akhirnya masih membutuhkan bantuan manual seperti saat penumpang kereta api jarak jauh yang tiba pada salah satu stasiun di Jabodetabek harus menunggu petugas untuk dapat membukakan pintu gerbang tersebut.

Bukankah ini menjadi sistem yang redundan?

5. Tidak terintegrasi transportasi publik lainnya

Hal ini merupakan salah satu potensi yang benar-benar kurang dimanfaatkan oleh KRL Jabodetabek. Pasalnya, pembangunan stasiun tidak mendukung hubungan langsung dari transportasi publik lainnya, seperti busway, metromini dan lain-lain.

Tidak dapat dipungkiri, orang-orang yang tidak terbiasa dengan daerah disekitar stasiun akan sangat kesulitan untuk beradaptasi dengan cepat dalam mencari transportasi publik lainnya setelah selesai menggunakan KRL.

Walau memang hal ini terlihat tidak terlalu penting, namun memberikan layanan terbaik kepada pelanggan merupakan salah satu cara transportasi publik dapat terus berinovasi menjadi lebih baik.

Ya, kira-kira begitulah 5 kekecewaan yang saya punya terhadap KRL Jabodetabek. Namun, terlepas dari 5 hal tersebut, saya pribadi sangat bangga dengan perubahan yang dilakukan oleh KRL Jabodetabek. Walau masih banyak kekurangan, namun selama KRL mau melakukan perbaikan dan mendengarkan permintaan konsumen, maka KRL Jabodetabek akan menjadi salah satu transportasi publik terbaik di Indonesia.
Sekian dari Muabeyond, pamit dahulu.

--


Teman-teman, kunjungi juga channel youtube Muabeyond dengan klik disini yang isinya juga tidak kalah menarik dengan apa yang ada di blog ini. Penting... Subscribe, Like and share juga ya :D
Terima kasih banyak atas supportnya =D

4 comments:

  1. Apakah kamu baru saja mengunjungi Indonesia kembali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum, Ini sebenarnya catatan lama yang akhirnya saya tulis di blog

      Delete
    2. Oh, saya kira kamu baru saja mengunjungi Indonesia kembali dan melihat bagaimana kondisi KRL

      Delete
    3. Saya sedang pulang dan sudah melihat kembali =D

      Sudah mulai ada perubahan, namun mostly belum banyak berubah

      Delete


EmoticonEmoticon