Thursday, September 12, 2019

Life in Seaside Japan - Prolog


Life in Seaside Japan
Prolog: Hidup di desa

-

Assalamua’laikum sob, selamat datang kembali di blog Muabeyond.

Sebelum kita masuk ke cerita seri ini, Saya sangat ingin meminta maaf apabila ada teman-teman yang ingin membaca lanjutan cerita seri dari “Those days that change everything”. Cerita seri tersebut masih hiatus karena saya belum menemukan ide lanjutannya. Namun, bersamaan dengan seri baru ini “Life in seaside Japan”, saya berusaha untuk tetap konsisten menerbitkan kedua seri tersebut walau mungkin banyak hampatan yang akan muncul. Oke, sekarang mari kita mulai serial ini.


--

Jepang. Sebuah negara di timur benua asia. Salah satu negara yang mempunyai sejarah yang sangat membekas dengan negara saya berasa. Namun, tentunya saat ini, gambaran citra negara Jepang bisa dibilang telah berubah sangat jauh dari gambarannya terdahulu.




Tentu saja, apabila mendengar kata “Jepang” saat ini, hal yang terbayangkan dalam benak adalah betapa ramainya kota, betapa canggihnya teknologi dan betapa mahal dan modernnya kehidupan di negara tersebut. Tak salah, karena saya pun berpikiran hal yang sama. Hanya saja, saya tidak pernah menyadari bahwa terdapat banyak cerita yang tersembunyi dan tidak terlihat ataupun diceritakan. Salah satunya, kehidupan di desa Jepang.

Haha, saya minta maaf. Intronya sedikit panjang dan malah jadinya kurang dramatis. Kita kembali lagi kenapa akhirnya bisa sampai tinggal di desa. Simpel, jawabannya adalah karena pekerjaan.

Semua ini bermula saat saya masih menjadi mahasiswa tingkat akhir. Saat sedang sibuk untuk menyelesaikan tugas akhir, muncul sebuah kesempatan untuk melakukan wawancara dengan perusahaan Jepang. Walau perusahaan ini bukan merupakan perusahaan yang besar, namun perusahaan ini menawarkan pengalaman bekerja langsung di Jepang dengan gaji yang cukup bisa diterima. Alhasil, dengan banyak alasan dan pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba mengikuti wawancara tersebut.

Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, banyak tahapan yang harus dilewati sebelum kita bisa menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Wawancara di Indonesia, wawancara di Osaka (untuk informasi saja, kantor pusat perusahaan ini terletak di kota Osaka sehingga pada wawancara final saya harus pergi ke Osaka agar dapat bertemu dengan para pemimpinnya) dan beberapa tes lainnya. Alhamdulillah, saya akhirnya diterima.

Satu hal yang saya juga baru sadar setelah diterima, perusahaan swasta di Jepang sama dengan BUMN di Indonesia. Karena perusahaan mempunyai banyak kantor dan pabrik yang tersebar di seluruh Jepang, maka terjadilah penempatan karyawan baru. Tentunya, teman-teman mungkin sudah bisa menebak apa yang saya ingin katakana. Betul, saya akhirnya ditempatkan di kantor cabang yang terletak di salah satu desa.

Itulah cerita saya akhirnya tinggal di desa Jepang untuk pertama kalinya dalam hidup saya.


EmoticonEmoticon